Salju Akhir Februari

Salju Akhir Februari
Cast:
– Kim Taeyeon
– Cho Kyuhyun
Genre: Angst
Length: Oneshot
Enjoy!
.
Masih pagi, dingin, dan gelap. Taeyeon membuka matanya perlahan-lahan, mengerjapkannya beberapa kali, berguling dan mengecek jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Jam sekaligus kalender otomatis itu menunjukkan tanggal hari ini. Tanggal 24 Februari, pukul 4 pagi. Ia menguap, bangkit perlahan-lahan dari tempat tidurnya. Ia meregangkan tangannya, dan juga mengikat rambut kecoklatannya itu..
Tangan kanannya membuka tirai jendela, kemudian ia membuka kaca jendela. Pandangannya terlempar jauh pada siluet pohon maple yang meranggas dengan sedikit daun yang masih bertahan di tempatnya. Sebagian ranting ada pula yang patah, terbebani oleh salju yang tak henti-henti menimpa pohon itu. Ini musim dingin. Setitik rasa perih menggores hatinya ketika ia mengingat tanggal ini, beberapa tahun yang lalu.
Ya… ya… musim dingin. Musim dimana daun-daun kering, mati, lalu jatuh ke bumi, tergantikan oleh kristal-kristal es yang tajam menggores kulit. Musim dimana sejauh mata memandang hanya warna putih, dimana segala keceriaan alam dan warna-warni bunga harus terhenti, sampai saat musim semi berikutnya tiba.
“Tidurmu gelisah, ada apa?”
Ia mengusap wajahnya dengan lelah. Ia memang sangat lelah, baik secara fisik dan mental. Pekerjaan rumah tangga, dan juga jadwal konser yang begitu padat, tak menyisakan sedikitpun waktu luang untuknya. Bahkan saat tidur pun, hatinya tak bisa diajak tenang.
“Apa ada jadwal yang tidak beres?”
Ia menopang dagunya dengan lelah, kemudian menghela napas panjang yang berat.
“Jangan bekerja terlalu berat.”
Nada kekhawatiran yang terselip pada kalimat namja itu, seperti menjadi gelombang rasa bersalah yang amat besar dihatinya. “Mianhae, oppa.”
….
Kantor SM Entertainment
Matanya menerawang jauh ke luar jendela kantor. Setengah terhipnotis dengan pemandangan salju yang berguguran di luar. Kota Seoul, seperti membeku, namun berkilauan bagaikan kristal es. Lumayan, untuk membilas rasa bosan yang tengah mendera dirinya.
“Kenapa Sooman-ahjussi lama sekali? Aku bosan.”
Taeyeon menoleh ke salah satu sudut ruangan. Mengingat saat menemukan sosok itu tengah mondar-mandir seperti kebingungan menunggui Sooman-ahjussi yang tak kunjung datang walau hanya sekedar mengambil beberapa dokumen untuk mereka. Ia mendecakkan lidahnya sambil berkacak pinggang. Taeyeon hanya menyunggingkan senyum manisnya. “Sudah, kau duduk saja. Beliau nanti juga akan datang.”
Terdengar suara pintu yang dibuka, “Mianhae, aku terlalu lama. Ini dokumen-nya.” Sooman-ahjussi masuk. Tampaknya ia cukup kerepotan dengan jumlah dokumen yang jumlahnya tidak sedikit itu. Taeyeon mengerti, sepertinya dia harus kerepotan menenteng dokumen-dokumen itu lagi. “Gwenchana, Sooman-ahjussi. Sini biar kubantu.” Taeyeon membantu menenteng tumpukan map tebal itu.
“Ah, mianhamnida. Aku ada urusan lagi.” Sooman-ahjussi melekukkan pinggangnya, “Aku permisi dulu. Tolong nanti kau urus semuanya.” Sejurus kemudian, pria tua -?- itu meninggalkan kantor.
Tatapan Taeyeon kembali tersita pada sosok seorang namja berambut kecoklatan itu lagi. Namja itu berkacak pinggang, sambil menggelengkan kepalanya.
“Orang itu, merepotkan saja.”
Taeyeon terkekeh dengan anggun pada namja itu. Ya, namja itu adalah sosok yang sangat dia cintai. Cho Kyuhyun…
….
Taeyeon turun dari kantor SM untuk jalan-jalan sebentar seusai membereskan dokumen-dokumen yang isinya adalah tentang kontrak konser. Sisanya, mungkin ia akan selesaikan besok saja. Melihat dokumen itu saja, ia sudah merasa pegal.
Baru sebentar berjalan, tercium aroma wangi Ramyun, dan kebetulan juga perutnya sedang kosong. Ia berhenti, dan menyadari dirinya sudah berada di depan sebuah kedai ramyun.
Ya, dia kembali menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat Kyuhyun pernah mengajaknya makan disini dulu. Hanya berdua, menikmati semangkuk panas mi kuah. Saat namja itu dengan malu mengajaknya berkencan.
“Taeyeon-ah, mau tidak kau makan ramyun? Aku ingin mentraktirmu yang lain, tapi aku sedang tidak ada uang.”
“Tidak apa-apa. Oppa mengajakku makan saja, aku sudah merasa senang.” Jawab Taeyeon menghilangkan kekhawatiran Kyuhyun. Cengiran khas namja itu kembali mengembang dari bibirnya.
Kepulan asap ramyun yang sedap tercium memenuhi ruangan. Ia memang sengaja tidak memakan ramyun-nya terlalu cepat, dan memilih untuk memandangi namja yang ada disampingnya itu. Memastikan kalau namja itu makan dengan lahap. Dan benar saja, tak perlu waktu lama mie ramyun itu tandas. Mungkin dinginnya musim dingin sudah menyita sebagian besar energinya, hingga membuatnya selapar itu. Ia terkekeh pelan, menyaksikan keganasan namja itu dalam menyantap ramyun-nya.
….
Seusai makan, ia memilih berjalan-jalan mencari udara segar di luar. Ia sedang malas untuk kembali berlatih di ruangan dance.
Ia melangkahkan kakinya kemanapun ia mau. Ia tak tahu mau kemana, yang penting udara segar bisa menyejukkan pikirannya saat ini. Sepanjang jalan, hanya ada putih, putih sejauh mata memandang. Dan sesekali, angin menerbangkan kelopak-kelopak bunga magnolia putih yang berserakan, bercampur dengan salju yang menumpuk di samping kiri dan kanan jalan. Taeyeon mengeratkan jaket merah marun-nya, ia menghembuskan nafas, dan keluar uap dari bibirnya, yang langsung menghilang bersama angin. Sebenarnya ia mengerti, hanya orang aneh saja yang bersedia berdingin-dingin dengan berjalan-jalan tanpa tujuan di musim dingin seperti ini.
Ia menoleh ke utara. Tampak sebuah apartemen yang cukup mewah. Sepasang suami istri sedang bermesraan di balkon lantai 3 apartemen itu. Si yeoja sedang menggendong bayinya sembari bergurau dengan suaminya. Ya, itulah Siwon dan Tiffany yang sudah lebih dulu menikah. Apartemen luas, yang sebanding dengan penghuninya. Suami-istri Choi dengan dua anak lelaki dan dua anak perempuan. Ya, empat orang anak. Rupanya Siwon benar-benar serius ingin memiliki banyak anak bersama yeoja blasteran itu. Masih sering teringat dalam benak Taeyeon, ketika Kyuhyun sering meledek Siwon setiap ia memiliki anak lagi.
“Hyung itu, kasihan Tiffany-ah kalau disuruh membuat Siwon kecil ini terus-terusan.”
Taeyeon tersenyum, setiap mengingat candaan renyah yang keluar dari bibir namja itu.
“Kim Taeyeon! Aku cinta padamu!”
Ah, ia teringat saat namja itu meneriakkan namanya di pinggir jalan, tak jauh darinya. Taeyeon terkekeh, bersamaan dengan rona merah yang menjalar mulus di pipi putihnya. Namja itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang rata. Mengungkapkan perasaan di jalan tanpa rasa malu. Begitulah dirinya, Cho Kyuhyun.
Ia kembali berjalan tanpa tujuan yang jelas. Cukup jauh, hingga akhirnya pandangannya tertumbuk pada sebuah pemandangan. Bentang hamparan padang rumput. Sayangnya, ini musim dingin. Tak ada yang menarik disini, seperti halnya saat musim semi, tumbuh bermacam-macam bunga yang berwarna-warni. Yang menarik perhatian adalah, sebuah pohon besar dan sebuah ayunan kecil.
Ya… ya… musim dingin. Musim dimana daun-daun kering, mati, lalu jatuh ke bumi, tergantikan oleh kristal-kristal es yang tajam menggores kulit. Musim dimana sejauh mata memandang hanya warna putih, dimana segala keceriaan alam dan warna-warni bunga harus terhenti, sampai saat musim semi berikutnya tiba.
“Ahra-noona selalu berkata, kalau aku akan menjadi penyanyi yang hebat.”
Kyuhyun memiliki sejuta kenangan dengan padang rumput ini. Dia selalu kesini jika orangtuanya memarahinya jika terlalu banyak main PS. Disini kakaknya selalu menghiburnya. Juga saat orangtuanya menentang keinginannya untuk menjadi penyanyi. Kakaknya tidak kenal menyerah untuk menyemangatinya, dan menunjukkannya para paduan suara gereja yang kadang-kadang berlatih disini.
Taeyeon tersenyum, “Kakakmu benar, kau adalah penyanyi terbaik yang pernah ku temui.” Gumamnya.
Ia lalu menengadah ketika bunga-bunga magnolia itu mulai menggeliat, memekarkan diri. Ia menengadah, bukan untuk memandang langit yang tersenyum kelabu. Ia menengadah, bukan karena tertarik memandangi tupai-tupai kecil yang terbangun dari hibernasi panjangnya, dan dengan lincah melompat ke dahan pohon satu sama lain. Ia menengadah, bukan karena memandangi pohon maple yang berdiri dengan angkuh. Ia menengadah, karena…
“JANGAN MENETES…!” ia menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghapus semua memori itu dari benaknya.
“Taeyeon-ah, lihat! Bunga magnolia itu, mulai mekar! Sebentar lagi musim semi!”
Suara itu menggema jelas di telinganya.
“Aku mencintaimu, Kim Taeyeon.”
“Kau, adalah cinta terakhirku, Taeyeon-ah.”
Senyum bahagia itu, tergambar dengan jelas di mata Taeyeon.
“Menikahlah denganku, Kim Taeyeon!”
“Kau, serius? Kau mau menikah denganku?”
Bahkan Taeyeon berani bersumpah, ia masih bisa merasakan panas air mata haru itu.
“Apa? Kita, kita akan mendapatkan dua Kyuhyun junior, sekaligus?”
Taeyeon jatuh berlutut, ia meremas-remas tanah. “PABO! PABO!” ia berteriak pada langit yang tersenyum dengan angkuh. Air mata yang semaksimal mungkin dibendungnya, mengalir dengan mulus di wajahnya yang membeku karena tiupan angin musim dingin.
“Nanti aku akan cepat pulang, tunggu aku, ya?”
“PABO KYUHYUN-OPPA! KENAPA KAU HARUS MATI!?”
“Aku cinta padamu, Kim Taeyeon.”
Flashback
Kantor SM Entertainment
“Yuhuu~ Yang sebentar lagi punya anak.” Sooyoung meledek yeoja yang sedang duduk di sampingnya itu. Taeyeon hanya tersenyum malu, sementara pipinya merona. “Ish, sudah.” Tiffany menyenggol lengan Sooyoung. Sementara yeoja itu hanya terkekeh sambil mengacungkan dua jarinya.
“Aku, akan membeli sesuatu di minimarket. Aku akan segera kembali.” Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya, “Taeyeon-ah, tunggu aku, ya.” Ia menunjukkan senyum manisnya, kemudian melangkah keluar kantor.
Ya, Taeyeon rupanya harus survive seorang diri dari godaan-godaan mematikan dari Sooyoung. Ia hanya tertawa saat Sooyoung tak bosan-bosan meledeknya dengan sejumlah pertanyaan mengenai calon buah hati yang tengah di kandungnya itu.
Sebentar, namun Kyuhyun tak kunjung tiba. Sudah 1 jam kepergian namja itu, namun ia tak kunjung kembali. Ini membuat Taeyeon makin berfirasat yang bukan-bukan. Semoga saja tidak.
Tiba-tiba, pintu didobrak dengan sangat keras. Semua yang ada di dalam ruangan langsung menatap seseorang yang mendobrak pintu itu. Itu adalah Sungmin, sahabat dekat Kyuhyun semenjak masuk Super Junior. Dia kelihatan terengah-engah. Tampak dari sorot matanya, ia seperti sangat shock.
“Sungmin-oppa, kenapa kau terengah-engah begini?” tanya Jessica khawatir.
“Kyuhyun… Kyuhyun… Mobil menabraknya,” ujarnya dengan nafas tersengal-sengal.
Seketika itu, rasanya dunia seperti runtuh tepat di kepala Taeyeon. “A – apa…?” tanya Taeyeon dan Tiffany berbarengan. Semua senyum yang ada, seketika lenyap.
Taeyeon menarik-narik kerah baju Sungmin dengan kasar. Air matanya tumpah. “Dimana, dimana dia sekarang?” tanyanya parau. “Di RS Seoul.” Jawab Sungmin pelan.
Tanpa berpikir panjang, yeoja itu langsung berlari. Ia berlari secepat yang dia bisa, semaksimal mungkin, berharap supaya masih bisa melihat senyum namja itu. Licinnya salju tidak ia hiraukan, ataupun macetnya lalu lintas. Ia hanya berlari dengan pikiran kacau. Yang penting ia segera sampai di rumah sakit, itu saja.
Dengan tergesa, ia menemui resepsionis rumah sakit. “Pasien, bernama Cho Kyuhyun. Oddiga!?” tanyanya dengan tergesa. Sang resepsionis mengangguk, kemudian membuka catatan daftar pasien. “Kamar 107.”
Ia kemudian kembali berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan kecepatan maksimal. Yang dia pikirkan hanyalah Kyuhyun. Apakah dia selamat, apakah dia terluka.
Ternyata…
Hanya ada sosok yang sudah terbaring kaku di atas ranjang. Menunjukkan senyumnya yang damai. Sosok itu sudah tidak bergerak sama sekali.
Ia menghampiri jasad tanpa nyawa itu dengan langkah perlahan. Tatapannya kosong. Taeyeon masih terlalu shock dengan kepergian Kyuhyun yang sangat mendadak ini.
Tak ada firasat buruk, semua ini terjadi begitu saja. Tanpa pemberitahuan dari sang Pencipta, akan kepergiannya ini.
Sooyoung merangkul bahu Taeyeon, ia menitikkan matanya sambil membelai lembut pundak yeoja itu. Taeyeon tak bisa berkata apapun, karena sekuat tenaga kini dia menahan air matanya. Karena ia teringat, kalau Kyuhyun pernah berkata kalau dia tidak bisa melihat Taeyeon menangis. Tenggorokannya tercekat.
Seohyun menghampiri Taeyeon, mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
“Unnie, bersabarlah.” Sooyoung susah payah mengatakannya, karena dia sendiri sedang menangis. Taeyeon hanya terdiam, namun terlihat dia seperti sangat tersiksa menahan air mata yang mendesak keluar dari tempatnya itu.
“Unnie, menangislah. Itu jauh lebih baik daripada kau menahan air matamu begini, karena aku tahu, menahan tangis itu sangat menyakitkan.” Tambah Seohyun.
Apa penyakit pneumothorax-nya itu tidak cukup? Apa kecelakaan-nya dulu tidak cukup membuatnya menderita. Taeyeon merasa Tuhan tidak adil, karena membebankan banyak derita pada namja itu. Berpuluh pertanyaan tanpa jawaban terus memenuhi benaknya.
“Aku ikut berduka, Taeyeon-sshi…” Sooman-ahjussi yang baru saja datang menghampiri Taeyeon.
Koloni yukimushi menari di langit, seperti melambaikan salam perpisahan kepada musim dingin. Seiring kepergiannya, salju terakhir di musim dingin melayang. Jatuh ke bumi bersama air mata Taeyeon.
Lux aeterna luceat eis, Domine
Cum sanctis tuis aeternum
Quia pius es
Requiem aeternam dona eis, Domine
Et lux perpetua luceat eis
Quia pius es
(english translation)
Let everlasting light shine upon them, Lord
With Thy saints for ever
For Thou art merciful
Grant them eternal rest, Lord
And let perpetual light shine upon them
For Thou art merciful

End of flashback
-Cemetery Park-
Taeyeon POV
Rupanya musim dingin telah berakhir. Kumpulan bintang gemerlapan, membentuk suatu pola, rasi bintang yang indah di malam yang bersih ini. Tak ada awan yang menghalangi gemerlap itu, dan seharusnya ini pemandangan yang indah, tapi entah kenapa aku tidak tertarik sama sekali.
Aku hanya diam berdiri, sendirian sepenuhnya di tengah dinginnya malam ini. Kueratkan coat abu-abuku untuk melawan hempasan angin penghujung musim dingin ini. Mendekap erat sebuket lili putih yang kubeli di toko bunga langgananku saat toko itu menjelang tutup hari ini, sambil memandang sedih pada nisan granit hitam itu dengan sedih.
Nisan granit hitam yang simpel namun elegan. Aku memandangi nama yang terukir disana. Cho Kyuhyun. Ya…Ya… Aku mengenali nama yang sama, yang juga terukir abadi di hatiku. Aku lalu berlutut di sisi nisan itu, meletakkan dengan lembut buket lili putih di atasnya.
“Oppa, sudah lama, ya? Kira-kira sudah lima tahun kau pergi.” Aku menggumam sendirian.
Angin semilir dingin bertiup. Aku mulai merasa kedinginan dan mengeratkan jaketku lebih rapat.
“Kau tidak pernah bilang, membesarkan anak adalah tugas yang jauh lebih berat daripada menjadi artis idola. Bahkan aku harus rela mengorbankan suaraku demi berteriak gara-gara kenakalan mereka.” Aku menghembuskan nafas. “Tapi, lima tahun ini aku sudah berusaha yang terbaik, oppa. Dan kau tahu, oppa? Anak-anak kita sudah besar sekarang. Mereka sudah masuk sekolah. Dan untungnya mereka tidak nakal di sekolah dan tidak terlalu banyak bermain PS.” Aku tertawa parau, menertawakan sindiranku sendiri.
Dan, aku terhanyut oleh suasana melankolis ini.
Aku tersenyum, melelehkan air mataku. “Haha, kau pernah bilang kalau kau tidak suka melihatku menangis.” Aku cepat-cepat mengusapnya, dan kembali tertawa parau.
“Oppa,” aku mengusap nisan granit hitam yang terasa sangat dingin itu dengan lembut. “Bogoshipo, aku sangat merindukanmu.”
Bait requiem Lux Aeterna yang mengiringi pemakaman Kyuhyun-oppa muncul kembali di ingatanku. Entah mengapa bait-bait dari lagu itu benar-benar bisa beresonansi dengan suasana hatiku saat ini. Beberapa saat aku terhanyut dalam lamunanku sendiri ketika suara langkah-langkah yang menginjak ranting dan dedaunan kering itu menyadarkanku.
“Unnie! Kau disini rupanya!”
“Sudah kuduga, dia pasti kesini. Seohyun-ah, harusnya kita tidak usah berputar-putar jauh-jauh.” Suara dua orang yeoja di belakangku. Aku menoleh ke sumber suara, menemukan Sooyoung dan Seohyun yang sedang menggandeng kedua anak kembarku. Cho Kyumin, dan Cho Kyuyeon…
“Ummaaaaa… Syukurlah! Akhirnya ketemu juga, kami sudah mencari umma kemana-mana!” disusul suara seorang gadis kecil. Gadis itu sangat mirip dengan Kyuhyun, hanya saja bisa dibilang versi wanita-nya. Ia juga mewarisi sifat ceria Kyuhyun.
“Sooyoung-ah, Seohyun-ah, Kyuyeon-ah.” Aku memandang mereka.
“Kajja, kita pulang umma… Aku sudah lapar, dan aku tidak sabar untuk menikmati masakan umma!” sahut seorang anak laki-laki yang benar-benar mirip dengan Kyuhyun.
Kedua anakku kadang-kadang ikut ke kantor SM jika aku tidak bisa menjemputnya. Jika aku sibuk, biasanya Sooyoung atau Seohyun yang menjemputnya. Mereka juga terkadang ikut pulang ke rumah Sooyoung, bermain-main dengan Jiho dan Jihyun, anak Sooyoung dan Changmin.
“Umma minta maaf sudah membuat kalian khawatir,” aku membelai rambut Kyumin dan Kyuyeon dengan lembut. “Nanti umma akan masak enak untuk kalian. Tapi sebelum itu, kita berdoa dulu untuk Appa. Arasseo?”
Mereka berdua mengangguk, “Kami juga ingin berdoa untuk Appa!” kata mereka berdua dengan serempak.
“Baiklah, kajja, kita sama-sama berdoa.” Kami lalu berdoa bersama.
“Ayo kita pulang, Umma.” Kyuyeon menarik-narik ujung jaketku seusai kami berdoa bersama. Aku mengangguk, kemudian membelai rambutnya dengan lembut.
Ya… ya… musim dingin. Musim dimana daun-daun kering, mati, lalu jatuh ke bumi, tergantikan oleh kristal-kristal es yang tajam menggores kulit. Musim dimana sejauh mata memandang hanya warna putih, dimana segala keceriaan alam dan warna-warni bunga harus terhenti, sampai saat musim semi berikutnya tiba.
Namun, aku tetap menyukai salju. Keceriaanku memang sempat terhenti karena kepergianmu. Bagiku, kau adalah salju. Karena salju, kita bertemu. Karena salju, kita bersama. Dan karena salju, perasaanku selalu terjaga untukmu, selamanya untukmu.
Aku yakin, anak-anak kita akan tumbuh menjadi orang yang hebat kelak. Dan walaupun aku tidak benar-benar tahu, aku berani berjanji padamu, Oppa… Aku berjanji akan selalu menjaga dua orang Kyuhyun kecil ini seperti seorang ibu yang baik seharusnya menjaga anak-anaknya.

THE END

4 thoughts on “Salju Akhir Februari

  1. Hmm sedih banget…mau nangis rasanya T_T
    Tapi,daebak untuk ceritanya.kalau bisa buat lagi ya FF yang kayak gini lagi.hehe

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s