I’m Missing You

I’m Missing You

Cast:

–          Son Naeun APink

–          Lee Taemin SHINee

–          Yang Yoseob B1A4

Genre: Angst, Romance.

Rated: T

Length: Oneshot

Plot: According by real story.

Enjoy!

Busan, Seoul.

Naeun mendekap buket bunga lili putih itu erat-erat sambil menapaki jalanan kota Busan. Tidak ramai, namun tidak bisa dibilang sepi. Kuatnya hembusan angin dingin di petang hari tak menyurutkan langkahnya sedikitpun. Mungkin sesekali ia hanya menggigil, dan mengeratkan kain jaket abu-abunya. Orang-orang bergegas, bunyi payung-payung dikembangkan guna menghindari terpaan salju yang mengenai kepala. Rambut panjangnya yang digerai sesekali tertiup angin. Ia hanya menatap lurus ke depan, salju yang jatuh ataupun pohon-pohon yang sedang meranggas tidak dia hiraukan, walaupun tanpa ia sadari bagian visual otaknya turut mencerna, bahwa musim semi akan datang terlambat.

Samar-samar Naeun mendengar suara musik yang amat familiar dengannya. Lagu itu, kalau tidak salah judulnya Only Tears dari Infinite, boyband yang beberapa tahun lalu sempat meledak di dunia musik K-POP. Walaupun terbilang lagu lama, lagu itu menyimpan sejuta kenangan untuknya dan dia yang sudah bahagia disana. Naeun menghentikan langkahnya, mencoba mendengarkan lagu itu dengan seksama. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya terasa perih mengingat peristiwa yang terjadi di tanggal ini. Tanggal 08 Juli, 4 tahun yang lalu.

Sakit sekali untuk mengingatnya, bahkan ia tak kuasa untuk bernapas menahan kepedihan hari itu.

“Lee Taemin, kenapa kau membohongiku?” lirihnya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang memaksa untuk keluar dari tempatnya. Sungguh sakit.

Ia terus melanjutkan langkahnya, hingga ia tak tahu seberapa jauh ia berjalan. Tiba-tiba ia berhenti ketika pandangannya tertuju tepat ke timur. Taman yang terasa begitu akrab dengannya, namun sudah lama ia tidak mengunjunginya. Rasanya tidak ada yang menarik disana, selain tumpukan salju dan juga kursi taman disana. Ia masih ingat ketika ia mengunjungi taman itu untuk kesekian kalinya dulu. Kala itu pulang sekolah, di musim panas.

“Naeun-ah! Bukan begitu caranya, itu malah semakin membingungkan!” bantah dia sambil membolak-balikkan buku paket pelajarannya yang tebal.

“Ya tapi bagaimana lagi, kita mengerjakannya saja tergesa-gesa. Yang penting cepat selesai Taemin-ah!” balas Naeun tidak mau kalah. Ia sendiri sibuk mencari buku tulisnya yang ada diantara tumpukan buku dalam tasnya.

Naeun tersenyum mengingat perdebatan yang terjadi karena urusan sepele itu. Kalau saja hari itu guru yang mengajar bukan Myungsoo-songsaenim, pasti mereka tidak perlu bersusah payah mengerjakannya. Namun itu juga bukan salah songsaenim. Salahnya dan namja itu sendiri yang mengulur-ulur waktu hanya untuk bermain. Masa kecil.

Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan gontai. Pandangan matanya kosong. Meskipun banyak sekali objek yang menarik mata seperti jalanan yang berkilauan karena membeku, ia tidak tertarik memandangi salah satupun. Namun ia baru berhenti ketika sekumpulan anak kecil berlarian mengelilinginya. Samar-samar terukir senyuman di bibirnya memandangi kelincahan anak-anak itu yang saling berkejar-kejaran satu sama lain.

“Lee Taemin! Kembalikan! Itu milikku!” jerit Naeun kecil sembari bersusah payah mengejar bocah nakal yang berlari membawa sebuah boneka teddy. Anak laki-laki itu tersenyum dengan penuh kemenangan sambil sesekali menjulurkan lidahnya kepada Naeun yang sudah kelelahan mengejarnya.

Ya, akhirnya Naeun menyerah. Ia berhenti berlari sambil memegangi lututnya seraya bernapas sepuasnya. Ia kemudian berpura-pura menangis sambil menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Kalau sudah begini, bocah itu akan kembali dan menyerahkan boneka itu lagi. Karena anak laki-laki itu tidak bisa melihat Naeun menangis, sekalipun.

Ah, ia teringat dengan kejadian satu setengah dekade lalu. Tentang Naeun yang selalu berpura-pura menangis kalau namja itu mengambil boneka beruang kesayangannya. Meskipun boneka itu pemberian dari dia, tapi Naeun tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh boneka itu termasuk orang itu sendiri. Boneka itu adalah barang kesayangannya sampai sekarang.

Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Namun entah tiba-tiba perutnya terasa kosong. Oh ya, Naeun baru teringat kalau sejak pagi ia belum mengisi perutnya dengan apapun. Dan sekarang sudah pukul 3 sore. Pantas saja ia merasa keroncongan. Ia menoleh kesekeliling jalan, berharap semoga ada cafe atau kedai supaya ia bisa membeli sesuatu demi sekedar menahan rasa laparnya. Oh, diseberang jalan ada sebuah cafe yang sangat familiar dengannya. Cafe yang sangat sering dia kunjungi bersama orang itu saat mereka masih bersama.

Naeun melangkah ke zebra cross terdekat, menyebrang bersama-sama dengan warga Busan lainnya. Ada yang baru pulang dari kantor, pulang sekolah, atau ada yang terlihat sekedar berjalan-jalan. Ia melihat sepasang remaja SMA yang saling menggandeng tangan satu sama lain dengan erat. Si namja memegang payung, menghalangi hujan salju supaya tidak mengenai kepala si yeoja yang berada disampingnya. Naeun tersenyum mengingat kejadian yang hampir sama dengan pasangan itu. Saat mereka berbagi payung dulu.

Hujan deras, tidak memungkinkan bagi Naeun untuk pulang sekolah dengan berjalan kaki. Apalagi sialnya dia tidak sedang membawa payung. Ia kini baru menyesal karena dengan ceroboh meninggalkan payung berwarna biru kesayangannya di teras rumah. Kini Naeun hanya bisa merutuki kecerobohannya sambil menunggu hujan berhenti di depan sekolah.

“Ya! Son Naeun kenapa kau tidak pulang?” tanya dia sambil menaiki sepedanya. Agak sedikit kepayahan dengan payung yang ada ditangan kanannya. Dia menatap Naeun dengan tatapan meledek. Naeun menatap namja yang sedang menertawakan penderitaannya itu dengan sebal. “Kau tahu kan, aku sedang tidak bawa payung tahu!” Naeun merajuk dan memalingkan pandangannya dari namja yang sangat menyebalkan baginya itu.

Dia terkekeh pelan, “Naik.” ujarnya singkat. Naeun menatapnya tidak percaya. “Apa?”

“Kau tidak dengar? Cepat naik! Aku tidak mau kau sakit lagi gara-gara kedinginan. Kalau kau sakit siapa yang akan kuledek? Cepatlah. Aku juga kedinginan.” ujarnya sambil mengalihkan pandangannya dari Naeun yang keheranan. Naeun akhirnya dengan terpaksa memilih naik ke sepeda dia daripada membeku sendirian di depan sekolah. Dia menyodorkan payung itu pada Naeun, “Pegang ini. Jangan sampai kita kehujanan. Aku berangkat.” Dia akhirnya mengayuh sepeda itu, sementara Naeun menjaga supaya payung itu tidak terhempas angin dan melindungi mereka dari derasnya hujan.

Ia bergerak memasuki cafe itu. Suasananya masih sama dengan saat pertama kali ia mengunjunginya. Hanya saja mungkin beberapa dekorasinya sudah diubah. Namun vas bunga berwarna abu-abu cerah di dekat pintu masuk masih sama. Tidak ada yang berbeda. Ia kemudian mengambil salah satu tempat duduk dan membuka buku menu. Beberapa menu favoritnya masih ada.

“Anda pesan sesuatu?” tanya seorang pelayan yang menghampirinya. Naeun mengangguk, sambil menutup buku menu itu dan menaruhnya di tempat semula. “Cake coklat dan latte, tolong.”

Pelayan itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Baik. Tunggu sebentar.” yeoja itu kemudian melangkah entah kemana.

Selagi menunggu pesanannya datang, Naeun kembali mengingat saat ia mengunjungi cafe ini bersama dia beberapa tahun yang lalu. Ia masih ingat beberapa kenangan yang terjadi di cafe ini.

“Lalu bagaimana? Aku bingung. Aku bukan tipe yang romantis.” ia menarik napas lelah seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Naeun tersenyum, “Katakan saja apa adanya, tidak masalah kau romantis atau tidak.” ia menepuk-nepuk bahu si sahabat dengan gemas, “Hwaiting!”

Dia tersenyum canggung. “Aku menyukaimu.” ujarnya ragu. Naeun mengangguk sambil tersenyum polos. “Nah, begitu caranya! Lagipula, siapa gadis yang kau sukai?” tanyanya polos. Dia tersenyum senang dan menggenggam kedua tangan Naeun, “Aku baru saja menyatakan perasaanku padanya tadi.”

Blush~

Pipi Naeun merona saat mendengarnya. Dan di wajah dia tersirat rasa bahagia karena berhasil menyatakan perasaannya pada yeoja yang dia cintai.

Tak lama, pesanan Naeun datang. Bau cake yang manis membuat selera makannya naik. Pelan-pelan ia menggigit dan mengunyah cake itu. Sesekali ia menyeruput latte itu sambil menatap keluar jendela cafe yang menampakkan jalanan kota Busan yang terawat. Dan juga di depan jalan ada kampus yang amat familiar dengan dia. Seiring samar-samar masih teringat kenangan-kenangan lama mereka di kampus itu.

“Er, kupikir aku mengenal Yang Yoseob. Naeun-ah, bukankah dia prom king SMA kita dulu?” tanya Yoonjo sambil mendekati meja Naeun. Naeun mengangguk pelan kemudian menatap namja yang sekarang sedang menuju bangkunya itu. Namja tinggi itu tersenyum pada Naeun.

“Annyeong, lama tidak bertemu, Naeun-ah.” ujarnya ramah sambil mengulurkan tangannya. Naeun lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyambut tangan namja itu. “Oppa, kau masuk disini juga?” tanya Naeun sambil mengembangkan senyum naturalnya. Yoseob mengangguk, “Kau semakin cantik saja, Naeun-ah.” puji namja itu sambil mengembangkan senyumnya. Pipi Naeun merona, baru kali ini ia dipuji secara terang-terangan daripada kekasihnya yang jarang mengatakan kalau dia cantik.

Yoonjo terkekeh senang, “Aw, aku teringat dengan prom king dan queen SMA kita.” ujarnya senang. Namun ia baru menyadari kalau ada orang dibelakangnya sedang menatapnya evil. Yoonjo menoleh ke belakang dan mendapati namja yang sedang berdehem dibelakangnya. Naeun terkekeh pelan. “Apa maksudmu, Shin Yoonjo?” tanya namja itu. “Tidak, maksudku, mereka itu pasangan prom dulu, lalu apa?” Yoonjo tergagap menjelaskannya. Bisa gawat kalau namja yang didepannya ini marah besar.

“Chagi, kau baru datang?” Naeun mencoba mencairkan suasana yang kaku antara kekasihnya dan pasangan prom SMA-nya dulu itu. “Oh, sepertinya aku mengganggu kalian. Maaf, aku akan pergi.” ujarnya sambil mengalihkan pandangannya dari tiga orang yang membuatnya kesal itu. “Er, tidak. Kau bisa bergabung juga kalau kau mau.” tambah Yoseob. “Oh, rupanya ada yang cemburu.” bisik Yoonjo. Seketika itu wajah dia memerah mendengarnya. “Apa? Tidak. Aku tidak cemburu.” bantahnya.

Naeun akhirnya berjalan menuju kekasihnya dan memeluk punggung namja itu dengan erat. “Hei, kau cemburu? Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya mencintaimu anak bodoh.” yeoja itu terkekeh pelan, kemudian merangkul bahu namja kesayangannya itu. “Benar? Kau janji?” tanya namja itu mencoba memastikan. Naeun mengangguk dan menyodorkan jari kelingkingnya. “Janji.” ujarnya singkat. Namja itu tersenyum bahagia, ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan segera. “Jangan pernah merayu namja lain selain Lee Taemin. Arasso?” Naeun tertawa kecil dengan ikrar yang baru diucapkan kekasihnya itu. “Ne, kau juga. Jangan pernah merayu yeoja lain selain Son Naeun.”

Dan mereka tertawa bersama karena ikrar yang baru saja mereka ucapkan.

Naeun kembali tersenyum simpul mengingat kecemburuan dia. Kala itu mereka masih sama-sama berumur 20 tahun, usia dewasa namun dia masih menunjukkan sifatnya yang pencemburu dan cengeng. Sifat yang menyebalkan, namun sifat itulah yang membuat Naeun mencintainya.

Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Ia kembali berjalan lurus, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Senyum itu, cengiran yang polos itu tergambar jelas di matanya. Ataupun panggilan ‘chagi’ dari dia yang amat sangat dia rindukan. Pelukan hangat yang sangat membuatnya merasa nyaman, ciuman lembut dari dia yang menyentuh dahi Naeun dengan penuh perasaan. Ia sangat merindukan semua itu. Kini semua itu hanyalah kenangan.

Cemetery Park

Naeun duduk di samping sebuah nisan granit hitam yang simpel namun elegan. Seperti dirinya yang sederhana namun sejuta keceriaan yang dimilikinya membuat orang merasa bahagia. Nama yang terukir disana, Lee Tae Min. Ia mengenal nama yang sama yang terukir di hatinya. Naeun kemudian meletakkan buket lili itu di dekat nisan itu. Membelai perlahan nisan granit hitam yang membeku seperti es. Dingin. Naeun sedikit bergidik saat jemarinya menyentuh permukaan nisan itu.

Kerinduan yang membuncah di hatinya seolah meracuni hatinya. Sakit sekali jika ia mengingatnya. Naeun tersenyum getir, matanya berkaca-kaca seolah siap menumpahkan cairan itu kapan saja.

“Chagi, aku ingin mengakui sesuatu padamu, yang sudah kusembunyikan sejak lama darimu.” dia menatap Naeun dengan serius. Naeun kini boleh merasa khawatir. Tatapan lelah yang serius itu, ia khawatir akan sesuatu yang buruk terjadi. “Katakan.” ujar Naeun singkat.

“Aku, sejak lama aku menderita Leukemia. Dan aku harus segera dioperasi. Maaf aku tidak pernah mengatakan ini padamu. Maaf.”

Terkejut, kecewa, marah. Tiga hal itu seolah bercampur aduk ketika Naeun mendengar pernyataan kekasihnya. Mengapa baru sekarang dia mengatakannya. Mengapa dia harus menderita sendirian tanpa berbagi rasa sakit itu dengan Naeun. Namun Naeun tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga air matanya. Ia berusaha supaya tidak menangis di depan namja yang dia cintai itu.

“Jadi, kapan operasinya?” tanya Naeun parau.

“Nanti malam. Doakan aku, chagi.”

Naeun tidak bisa menahan air matanya, ia tersenyum pahit, melelehkan air matanya. “Tentu, aku selalu berdoa yang terbaik.”

Tanggal 7 Juli, pukul 20:45. Naeun hanya bisa berharap semoga Tuhan mau berbaik hati memberikan keajaiban untuk dia yang Naeun cintai. Dia tersenyum, ketika para dokter mendorong ranjangnya ditemani Naeun, ibunya dan noona yang sangat dia cintai, Lee Soon-kyu. Tidak sedikitpun rasa takut terlihat di wajahnya. Senyum yang sangat tenang, namun sangat membuat Naeun terluka ketika memandangnya.

“Chagi, aku harap ada keajaiban.” dia menggaet tangan Naeun dan menggenggamnya erat dengan kedua tangan dinginnya. Naeun memaksakan senyumnya, dan mengangguk. “Keajaiban menyertaimu chagi.”

Ia memejamkan matanya, seiring pintu ruang operasi tertutup. Tersenyum perlahan, senyum yang sangat damai.

“Tuhan, izinkan aku untuk hidup. Aku masih punya mimpi yang belum tercapai. Jangan biarkan mimpiku hancur. Kalau engkau tidak mengizinkannya, berikan aku akhir yang indah.” bisiknya perlahan dalam hati.

Air mata Naeun kembali jatuh ketika mengingat kata-kata terakhirnya. Ya, catatan terakhir milik dia yang tanpa sengaja Naeun temukan diantara buku-buku favorit orang itu. Yeoja itu ingat benar kalimat-kalimat yang sering diucapkan namja itu saat bersama.

“Terimakasih Tuhan, sudah memberikan kesempatan untuk bersamamu.”

Naeun kembali merasa sesak ketika mengucapkan kalimat itu. Ia memejamkan matanya, air mata gadis itu kembali meleleh tanpa diminta. Kerinduan itu, semakin menyiksanya walau ia tak mau mengingatnya lagi.

“Chagi, kau mau tahu apa yang kemarin aku mimpikan dalam tidurku?”

Naeun menggeser posisi duduknya, membuatnya sedikit lebih dekat dengan kekasihnya itu. “Memangnya apa?”

“Aku bermimpi, tentang kehidupan kita selanjutnya. Aku berdiri bersamamu, dan juga anak kita. Tapi kemudian aku terbangun.” ujarnya dengan nada kecewa. Naeun tersenyum, kemudian memeluk lengan namja kesayangannya itu erat-erat. “Kau harus bangun jika ingin mewujudkannya.” ia terkekeh pelan. “Namun bagaimana jika itu tidak bisa menjadi nyata?”

Naeun menggeleng pelan, “Kita akan mewujudkannya, suatu saat nanti.”

“Kau bilang kau takkan pernah meninggalkanku, nyatanya kau yang meninggalkanku.” ia terkekeh pelan, menertawakan sindiran yang dibuatnya sendiri.

Yeoja itu kembali membelai nisan itu dengan jemarinya, “Kenapa kau harus pergi? Kenapa operasi itu harus gagal,” ia menggumam sendirian. Air matanya mengalir di pipi mulusnya.

“Aku merindukanmu, meskipun aku tidak bisa kembali menggenggam tanganmu, aku sangat merindukanmu.”

Naeun mengusap air matanya dengan ibu jarinya. Langit kosong, hanya mendung menghias. Kristal-kristal es yang tajam itu seolah semakin deras. Memang, salju takkan mau dipaksa berhenti meskipun tidak ada Naeun dan Taemin.

Ah, ia tiba-tiba teringat dengan lagu itu. Ya, Only Tears dari Infinite. Seminggu sebelum dia pergi, dia sempat memberikan lagu itu untuk Naeun.

Dia menggeser posisi duduknya, menjadi lebih dekat dengan Naeun. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Naeun dengan manja.

“Aku ingin memberikan sebuah lagu untukmu. Jika kau merindukanku, putar saja lagu ini. Lagu ini adalah cerminan perasaanku padamu.” ujarnya dengan lembut. Naeun menganggukkan kepalanya.

Dia kemudian mengambil sesuatu dari sakunya – sebuah ipod kecil berwarna hijau cerah. Dia lalu memutar sebuah lagu.

“Apa judul lagu ini?” tanya Naeun penasaran. “Only Tears dari Infinite.” ujarnya singkat.

Lagu itu bernada lembut, namun bergenre kesedihan. Tepat sekali, lagu itu akan menjadi salah satu lagu favorit Naeun. Karena lagu favorit Naeun adalah lagu sedih. Namun tidak sedikitpun yeoja itu berharap salah satu kejadian tragis dalam sebuah lagu sedih favoritnya akan terjadi.

“Aku merindukanmu, neomu bogoshipo.” bisik Naeun lirih. Ya, Naeun tahu. Beribu kali pun Naeun berkata kalau ia sangat merindukan dia, namun dia tidak akan pernah kembali. Naeun tidak bisa kembali memutar jarum jam yang sudah terlanjur berputar. Naeun tidak bisa mengubah takdir.

Naeun kembali terhanyut pada suasana melankolis ketika ia teringat bait-bait lagu Only Tears itu.

Oh, I… I can’t hold your hands, but I’m missing you…

Sudah 4 tahun berlalu sejak perginya dia, namun jujur, Naeun masih tidak sanggup membiarkannya pergi. Ia kembali melelehkan air matanya, terisak pelan di tengah kesendiriannya, di malam yang dingin.

Namun ia baru berhenti terisak ketika ada seseorang yang menyelimutinya dengan jaket. Dengan segera ia menoleh ke belakang, dan mendapati namja yang tersenyum manis padanya.

Semanis apapun senyum namja itu, itu tetap bukan dia, itulah pikiran Naeun setiap ada namja yang mencoba memasuki hatinya. Namun selalu saja, Naeun menutup hatinya untuk orang lain.

“Kalau dingin-dingin begini, harusnya kau pulang dan menghangatkan diri.” ujar namja itu lembut. Naeun tertegun, ia merasa tidak enak sudah mengacuhkan Yoseob selama ini, namun selama 4 tahun Yoseob terus berusaha keras. Yoseob terus berusaha membuka hati Naeun. Yoseob ingin menyembuhkan luka Naeun, apapun caranya. 4 tahun ini, Yoseob selalu berada di dekat Naeun, menjadi tempat bersandar gadis itu kapanpun dia menginginkannya.

“Yoseob-oppa, aku merindukannya,” bisik Naeun parau, berusaha menahan air matanya yang kembali mendesak keluar.

Yoseob merangkul pundak Naeun dengan lembut, “Ya, aku tahu. Aku juga merindukannya. Kita semua merindukannya.” bisiknya pelan.

Dan Naeun kembali rerhanyut dengan suasana melankolis yang menyelimuti malam itu. Terisak pelan di bahu Yoseob. Kini Yoseob akan berusaha menjadi pelindung Naeun. Ia akan berusaha menjaga Naeun, menyembuhkan luka Naeun. Walaupun bukan Yoseob yang ada di hati Naeun, Yoseob bersedia menunggu selama apapun, sampai Naeun siap membuka hati untuknya, Yang Yoseob.

THE END

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s