Fake relationship part 4

Fake Relationship.

Gambar

Gambar

part 4: The Sprinkle, Sprinkle.

Cast:

–          Kris Wu Yi Fan

–          Kim Taeyeon

–          Byun Baekhyun

–          Krystal Jung

Genre: Romance

Rated: T

Length: Chaptered

Enjoy!

Aku baru keluar dari kelasku. Seohyun tidak ikut bersamaku karena dia ada kencan dengan Luhan. Rupanya aku harus pulang naik bus sendirian karena sepedaku sedang rusak. Aku berjalan keluar gedung sekolah dengan gontai. Namun sebuah mobil berhenti di depanku – tepatnya menghalangi jalanku.

Kutatap mobil itu dengan canggung. Dan jendela mobil itu turun, terlihat wajah sok angkuh Kris dari sana. Aku hanya diam saja sambil tersenyum kecut. Kemudian aku berjalan ke arah lain.

“Masuk ke mobil.”

Apa? Dia kurang ajar sekali, memang dia pikir aku pembantunya apa? Aku hanya menghentikan langkahku sambil menatap evil padanya. “Aku tidak mendengar kata ‘tolong’ darimu. Buat apa aku masuk? Aku juga bukan pembantumu!” ujarku ketus. “Oh baiklah. Semuanya dengar, dua hari yang lalu, aku dan Kim Taeyeon telah-“ buru-buru aku masuk ke mobil dan duduk di sampingnya sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Baik! Aku masuk mobil. Kau puas? Dasar pemaksa.” ujarku dengan judes. Aku melipat tanganku. Sesekali kudengar dia terkekeh.

“Changmin-ssi, jalan.” ujar Kris pada sopirnya yang mungkin seumuran Appa. Memang Kris itu tidak tahu sopan santun. Masa ia memanggil supirnya dengan nama? Bukankah menambahkan kata ‘ahjussi’ itu lebih baik? Dasar.

“Kita mau kemana?” tanyaku ketus selama perjalanan kami. “Tidak perlu tanya. Nanti kau akan tahu jika kita sampai.” ujarnya tenang sambil terus menatap keluar jendela. Aku lalu membuang mukaku darinya dan menatap jendela yang berlawanan arah. Selama perjalanan, kadang-kadang aku juga melirik ke arahnya, namun kurasa dia memang sangat cuek. Dia tidak sedikitpun menoleh padaku. Hey, bukankah lebih baik seperti itu? Kim Taeyeon, apa sih maumu? Kau minta diperhatikan oleh namja menyebalkan seperti dia? Babo!!

Dan sampailah kami ke sebuah gedung besar, yang kurasa, itu… Mall? Ya! Dia mengajakku ke Lotte Department Store? Tapi untuk apa?

Aku melebarkan mataku melihat gedung megah itu. Seumur-umur, ini bahkan kunjungan pertamaku. Bahkan jika ingin beli baju, aku akan mampir ke obralan 1000 ₩ di Busan. (Tempat penjualan pakaian cacat produksi di Busan)

“Kris, kita, untuk apa?” belum selesai kata-kataku, dia sudah menggenggam dan menggandengku – tepatnya menyeretku keluar karena aku ogah-ogahan menurutinya. “Ya! Lepaskan, sakit tahu!” protesku saat ia menyeretku masuk ke dalam mall. Namun dia pura-pura tidak dengar dan terus berjalan dengan cepat, sehingga mau tidak mau aku berlari-lari kecil mengikutinya.

Dan akhirnya ia melepas genggaman tangannya saat kami berada di depan sebuah butik wanita yang kelihatan bagus-bagus. Hm, seleramu bagus juga Kris.

“Ya! Lihat. Gara-gara kau tanganku jadi merah-merah begini.” protesku sambil mengusap pergelangan tanganku yang memerah. “Masuk dan belilah baju-baju yang kau suka.”

Aku menoleh padanya dengan tatapan –apa-kau-serius- padanya. “Mwo?”

Dia melempar kartu kreditnya padaku. “Ambillah. Pakai untuk beli baju.” ia lalu mendorongku masuk.

Baru langkah pertama, aku sudah takjub dengan semua pakaian yang dipamerkan disini. Bahkan baju tidurpun terlihat seperti pakaian pesta. Ya Tuhan, aku tidak tahu kalau Kris itu punya selera yang bagus. Naluri kewanitaanku menguasaiku, dan dalam sekejap aku memborong beberapa baju yang kupilih.

“Kau sudah selesai?” tanya Kris yang tiba-tiba masuk ke butik. Namun aku masih memilih-milih baju. Aku hanya diam dan mengabaikannya.

“Kenapa tidak kau coba yang ini?” tanya Kris sambil menunjuk salah satu gaun. Aku menoleh mengikuti gaun yang dia tuju. Gaun yang cantik O_O namun begitu kulihat bandrol harganya…

“30000 ₩?!?” pekikku kaget. “Kris, kau bercanda kan? Lebih baik aku beli di obralan Busan saja.” Aku melangkah mundur, namun Kris menggaet tanganku. “Coba dulu.” ujarnya sambil mendorongku ke ruang ganti.

Setelah beberapa saat memandangi diriku sendiri, aku membuka pintu ganti dengan perlahan. Aku takut kalau gaun ini tidak cocok untukku.

“Bagaimana, Kris?” tanyaku pelan. Kris mendongakkan kepalanya perlahan. Matanya melebar saat melihatku menggunakan gaun ini. Bingo, pasti dia kagum.

Gambar

“Biasa saja.” komentarnya singkat.

Seketika aku langsung shock. Biasa saja katanya? Ya Tuhan, lalu kenapa dia menyuruhku memilih yang ini?

“Hey! Lalu kenapa kau suruh aku pakai yang ini?” tanyaku ketus. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan santai ke arahku. Aku mengambil sedikit langkah mundur. Ia lalu mengamatiku dari ujung rambut sampai kaki. “Ya, kau meningkat. Sedikit sekali kelihatan tinggi.”

Cish, apa itu sebuah compliment? Menyebalkan.

Kami lalu berjalan keluar butik beriringan. “Kris, begini. Kenapa kau begitu baik padaku?” tanyaku ragu-ragu. “Mwo? A-aku ti-tidak. Aku hanya ingin kalau pacar kontrak-ku kelihatan tidak kampungan, itu saja!” Jawabnya sewot. “Ya! Kenapa kau jadi sewot sih?” tanyaku tidak terima.

Ia tidak menjawab dan kemudian meninggalkanku sendirian, entah kemana. Aku segera menyusulnya dengan terburu-buru. “Ya! Wu Yi Fan! Jamkaman!”

****

Sudah hampir pukul 8. Appa dan Umma pasti marah besar karena aku pulang terlambat. Aku agak kepayahan membawa belanjaanku. Seenaknya saja dia meninggalkanku di halte. Padahal dia sendiri pun tahu persis dimana rumahku. Benar-benar seorang ‘Gentleman’.

“Aku pulang,” bisikku pelan.

Ryeowook-oppa membukakan pintu untukku. “Taeng, kau habis darimana?” tanyanya khawatir. “Aku, aku dari Lotte Department Store.” jawabku ragu. Ryeowook-oppa agak kaget dan membiarkanku masuk. Kemudian aku meletakkan belanjaanku yang super banyak di sudut ruang tamu. “Kau serius habis dari sana?” tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba eomma keluar dari kamarnya dan terkejut melihat belanjaanku.

“Aigoo, Taeng. Dengan uang siapa kau belanja sebanyak ini?” Eomma langsung menyerbu belanjaanku. “Kris yang membelikanku semua ini.” ujarku pasrah. “Jinjja? Dia benar-benar baik.” puji Eomma sambil mengamati baju-baju baruku. “Mwo? Baik apanya? Dia yang menyeretku masuk ke dalam butik!” bantahku. “Dia benar-benar menantu yang baik. Jangan sampai putus dengannya ya. Kalau kalian mau putus, kalian harus minta izin pada eomma dulu.”

Aku mendelik mendengar perkataan eomma. “Mwo? Eomma kami akan putus sebentar lagi, oke? Lagipula aku tidak suka kok dengan dia!” aku langsung masuk ke kamarku.

****

Kukayuh sepedaku dengan agak tergesa-gesa. Sudah hampir pukul setengah tujuh, tapi aku masih di jalan. Bisa gawat kalau aku telat, karena setahuku pemilik kafe tempatku bekerja itu sangat galak. Aku mengayuh pedal sepedaku lebih cepat lagi.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, aku pun sampai di tempatku bekerja. Aku segera masuk ke dalam dan mengganti bajuku dengan seragam waitress.

Disinilah aku bekerja, cafe Orange’s. Semuanya bersuasana orange, bahkan seragamku pun berwarna orange.

Semuanya warna orange. Wallpaper, piring, meja, semuanya. Sayangnya bukan warna orange yang fresh, tapi orange wortel. Benar-benar norak! Kenapa juga tidak dinamakan kafe wortel ya?

Bahkan, minuman andalannya adalah jus wortel! -_-

Aku baru saja selesai mengganti bajuku. Kulirik jam yang ada di pojok atas dinding dekat ruang ganti. Aish, sudah pukul tujuh lewat lima belas. Aku telat lagi.

Pelan-pelan aku berjalan keluar dari ruang ganti. Bingo, bosku Sooman-ahjussi sudah duduk di meja kantornya sambil membaca koran mingguannya. Kepalanya terangkat pelan-pelan, menyadari kehadiranku. Aku hanya bisa tersenyum se-innocent mungkin, berharap kepolosan senyumanku bisa menghipnotisnya.

“Terlambat lagi?”

Aku mengangguk agak ketakutan, “Ne, ahjussi. Mianhamnida. Aku janji tidak akan mengulanginya.” ujarku. Sooman-ahjussi menarik napas panjang. “Sudahlah, sana bekerja.”

Hatiku bersorak, untunglah ahjussi itu orang yang baik hati. Mungkin karena aku termasuk pegawai dibawah umur, makanya ahjussi tidak bisa galak padaku. Syukurlah…

Terlihat di pojok sudah ada Juniel. Ia sedang asyik mengelap meja.

“Unnie, kau sudah datang?” sapanya dengan mata berbinar. Aku mengangguk sambil mengulum senyum. “Kau datang awal sekali?” tanyaku sambil membantu membereskan piring-piring yang ada di meja. Juniel mengangguk, “Ne. Banyak pelanggan datang awal. Maka dari itu aku harus sedia lebih awal. Kalau tidak kasihan juru masak kita, Do Kyungsoo.” ujarnya dengan sedikit nada mengejek pada akhir kalimatnya, tepatnya menyindir DO. “Aku dengar itu Choi Junhee.” balas DOdari dapur. Kami pun terkekeh bersama. “Kemana yang lainnya?” tanyaku lagi. Juniel menggeleng, “Molla. Sekarang kan hari Sabtu, mereka mungkin sedang menikmati weekend.” ujarnya luas. (Ingat! Panjang X Lebar = Luas)

Rupanya benar kata Juniel, banyak pengunjung hari ini. Hari ini akan jadi hari yang sibuk buatku. Aku dan Sulli harus sedikit mengerahkan tenagaku untuk mengantar pesanan, mengorder pesanan, bahkan DO juga terlihat agak ngos-ngosan karena harus berkali-kali menyalakan kompor. Suasana dapur pun jadi panas karena panas kompor.

Sudah pukul 2 siang, dan pengunjung sudah sedikit longgar. Aku bisa sedikit bersantai sekarang, fiuh.

“Unnie!” Juniel berlari ke arahku. Aku yang sedang asyik bersantai dengan DO jadi agak terganggu. “Mwo?” tanyaku pada Juniel.

“Pelanggan meja nomor 8 minta dilayani.” kata Juniel polos. Aku menarik napas dalam-dalam. “Lalu kenapa tidak kau layani?” tanyaku lagi. “Pelanggan itu mintanya unnie yang melayani.”

Aku menepuk dahiku. Pelanggan ini cerewet sekali sih minta kulayani segala. Aku jadi penasaran, apa dia orang yang kukenal ya? Aku lalu berdiri dan menuju meja si pelanggan itu untuk jawaban pasti.

Dan perasaanku yang tadinya merasa spesial berubah jadi enek 100% karena pelanggan itu adalah musuh bebuyutanku, Kris Wu yang kini sedang duduk bersantai di mejanya.

Ia menoleh dengan wajah innocent-nya padaku. “Hey pelayan! Kemarilah!” panggilnya sok innocent. Aku lalu berjalan dengan gontai ke mejanya.

“Kau mau apa disini heh? Bukannya kau biasa makan di restoran super mahal. Kau ‘kan orang kaya! Sana pergi!” ujarku judes. Ia tertawa kecil, “Apa yang lucu hah?” hardikku lagi.

“Hei, kafe macam apa ini? Pelayanannya sangat tidak memuaskan. Harusnya kau menawariku sesuatu, bukannya mengusir pelanggan. Apalagi kau itu pacarku.” ujarnya dengan meninggikan nada akhir kalimatnya. Seketika seluruh cafe memandangku dengan tatapan aneh. Dasar namja tidak tahu diri, sungguh aku ingin menghajarnya sekarang juga. Aku hanya terdiam dan berusaha untuk mengabaikan tatapan tajam itu.

“Sudahlah. Pesan sesuatu dan pergi dari sini!” kataku pelan. “Aku ingin pesan es krim rasa coklat dengan ukuran super jumbo.” ujarnya. Aku kaget dan mendelik padanya.

“Mwo? Ta-tapi es krim jumbo kami pas untuk dimakan 2 orang sekaligus. Kau sanggup menghabiskannya?” tanyaku sangsi. “Sudah bawa saja. Jangan lupa topping yang banyak.” tambahnya. Aku hanya menatap sebal padanya dan memilih untuk membawakan pesanan namja menyebalkan ini.

Beberapa menit kemudian aku kembali dengan membawakan pesanan Kris.

“Ini. Es krim ukuran jumbo. Segera habiskan dan pergi.” ujarku sambil melipat tanganku. Aku kemudian berjalan membelakanginya, tepatnya kembali ke dapur.

“Jamkaman. Aku minta tambahkan topping.”

Aku menoleh dan mengernyit padanya. “Mwo?” Dengan segera kuambil mangkok es krim-nya dan menambahkan beberapa topping supaya namja ini menutup mulutnya dan segera pergi.

“Ini.”

“Masih kurang.”

“Bagaimana kalau segini?”

“Kurang.”

Dan aku harus kembali bolak-balik demi menuruti namja cerewet ini. Sampai akhirnya, toppingnya pun sudah banyak sekali. Aku datang ke mejanya sambil tersenyum nakal.

“Kau yakin bisa menghabiskan semua ini?” tanyaku sambil tersenyum nakal. Dia menatap es krimnya beberapa saat, kemudian menoleh ke arahku sambil tersenyum. “Deal.”

Mwo? Deal? Apa maksudnya?

Kris mulai memakan es krim-nya. Aku yakin dia tidak akan menghabiskan porsi sebanyak itu.

Tunggu, sepertinya aku salah. Baru beberapa menit dia sudah menghabiskan separuh besar es krim itu. Dan 10 menit kemudian dia berhasil!

Aku hanya terpaku melihatnya mengusap bibirnya yang sedikit ternoda es krim. Bagaimana mungkin dia menghabiskan es krim sebanyak itu? Aku saja yang shikshin belum tentu habis!

Tiba-tiba ia menggenggam tanganku dengan erat saat aku hendak membereskan mangkok es-nya. “Kau mau apa?” tanyaku. “Kau tahu deal-nya. Karena aku menang, sekarang kau ikut aku.“ ujarnya sambil tersenyum nakal. Ia lalu menarik tanganku. “Ya! Aku masih harus bekerja!“ hardikku.

“Hey kau! Aku pinjam temanmu dulu ya!” teriak Kris pada Juniel yang sedang membereskan meja Kris. Aku menggelengkan kepalaku pada Juniel, mencoba mengirimkan isyarat padanya supaya menyelamatkan aku. Namun Juniel tidak menangkap sinyal dariku dan hanya mengangguk pada Kris. Terpaksa aku hanya menurut saat diseret Kris ke mobilnya. Oh Tuhan, dia mau apa lagi sih?

TBC

4 thoughts on “Fake relationship part 4

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s