Fake relationship part 7

Fake Relationship.
part 7: Is this love?
Cast:
– Kris Wu Yi Fan
– Kim Taeyeon
– Byun Baekhyun
– Krystal Jung
Genre: Romance
Rated: T
Length: Chaptered
Udah mulai seru nih, soalnya Taeng udah mulai suka ama Kris c:

Enjoy!
Oke. Sekarang adalah malam yang sangat buruk. Aku berada dalam satu mobil dengan musuhku sendiri, dan sekarang kami terjebak macet karena cuaca buruk. Bahkan penyiar radio yang kudengar dari mobil Kris menyarankan supaya beristirahat di hotel lebih dulu daripada terkena cuaca buruk.
Kris akhirnya membelokkan mobilnya ke arah lain. Mencari hotel yang terdekat untuk kami singgah, atau mungkin sauna supaya kami bisa beristirahat sampai cuaca buruk usai. Namun sialnya hanya ada satu hotel di sini, kami pun memasuki hotel itu dengan terpaksa.
“Pesan dua kamar untuk 1 malam.” ujar Kris pada sang resepsionis. “Mianhamnida, tapi kamarnya hanya tinggal satu. Hari ini banyak yang pesan kamar karena cuaca buruk.” ujar sang resepsionis.
“Mwo?” pekikku kaget. “Kris, kita cari hotel lain saja.” pintaku. “Tapi hotel ini hanya satu-satunya hotel disini.” ujar Kris. “Jadi bagaimana? Masa kita tidur sekamar?” tanyaku. “Sudah, nanti kuatur.” bisik Kris.
“Ya sudah, pesan 1 kamar.”
Kami memasuki kamar kami. Aish, hanya ada satu ranjang disini. Lalu bagaimana?
“Kris, hanya ada satu ranjang.” ujarku lirih. Kris tampak berpikir, kemudian dia mengambil beberapa bantal dan selimut dari ranjang. “Kau, tidur di atas. Aku saja yang tidur di bawah.” ujar Kris dingin. “Mwo? Kau yakin? Tapi kan malam ini dingin.” ujarku khawatir. “Memang kau mau tidur di bawah, tidak kan? Cepat nyalakan pemanasnya.” ujar Kris sambil menaruh bantal dan selimut itu di bawah tempat tidur. Buru-buru kunyalakan pemanasnya, kemudian aku pun merebahkan diri di ranjang.
Sudah beberapa jam lamanya, tapi aku masih tidak bisa tidur. Aku sudah berganti-ganti posisi tapi mataku masih menolak untuk kuajak tidur. Sebenarnya di kamar tidak terlalu dingin atau panas, namun karena aku merasa tidak nyaman saja.
Iseng-iseng aku melirik ke bawah dan memperhatikan Kris yang sedang tertidur. Wajah evilnya, kini seolah berubah menjadi sangat polos saat tidur. Tanganku bergerak untuk merapikan rambut yang menghalangi dahinya. Namun belum sampai menyentuh dahinya, aku mendengarnya bicara.
“Jangan memperhatikan aku seperti itu, aku tahu aku ini tampan.”
Aku mendecakkan lidahku, “Siapa yang memperhatikanmu? Dasar geer. Lagipula, kenapa kau belum tidur?”
“Sejak kecil aku tidak bisa yang namanya tidur di lantai, meskipun dialasi selimut setebal apapun.” ujar Kris lirih.
“Kalau kau mau, kau bisa kok tidur di sampingku. Kita tidur saling memunggungi, maksudku.” ujarku agak ragu-ragu. Kris lalu membuka matanya perlahan dan bangkit sambil menyingkirkan selimut yang menutupi badannya. “Benar?”
Aku mengangguk.
Ia lalu membawa beberapa bantal dan selimut ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sampingku. “Rupanya kita tidur seranjang lagi untuk kedua kalinya.” ia tertawa kecil. Aku melempar tatapan evil padanya. “Mwo? Ya! Jangan berpikir yang macam-macam, karena kali ini kita sedang dalam keadaan darurat pabo!”
Kris POV
“Mwo? Ya! Jangan berpikir yang macam-macam, karena kali ini kita sedang dalam keadaan darurat pabo!” sungutnya. Aku terkekeh melihat semburat merah tipis yang muncul di pipinya. Sepertinya dangshin ini sedang blushing. Aku iseng-iseng menyentuh pipinya. “Kenapa disini berubah merah?” tanyaku sambil tersenyum nakal.
Ia langsung melepas tanganku, pipinya pun berubah semakin merah. “M-mwo? Ti-tidak. Mungkin karena disini terlalu panas, ya. Mungkin saja! Atau karena sedang terlalu dingin, kulitku itu sensitif tahu!” bantahnya. Aku terkekeh, “Kau seperti sedang salting saja!”
Taeyeon langsung berbalik memunggungiku, “Berhenti bicara yang tidak-tidak dan cepat tidur! Aku capek tahu.” aku tertawa, “Ne, arasso dangshin.” aku tersenyum kecil. Entah kenapa dia kelihatan imut sekali kalau marah, maka dari itu aku suka sekali menggodanya. Apalagi saat pipinya berubah menjadi merah. Benar-benar semakin manis hingga aku tak tahan untuk menggodanya. Bahkan entah kenapa, aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Ketika jantungku berdebar-debar tidak jelas saat bersamanya. Kenapa ya?
Aku berbalik memunggunginya dan memejamkan mataku. Kuharap aku akan menemukan jawabannya.
Taeyeon POV
Aku membuka mataku perlahan, menyingkirkan selimut yang membalutku dan menguap. Aku bangkit dari tidurku dan menoleh ke samping, kulihat Kris tidur sambil meringkuk. Tanganku bergerak-gerak menggoyangkan tubuhnya.
“Kris, bangun. Sudah –hoaamm- pagi, Kris.” ujarku dengan mata setengah terbuka. Kris masih belum bangun saja, kugoyangkan tubuhnya, namun tiba-tiba aku merasa kalau suhu tubuhnya agak panas. Kusentuh dahinya, dan dia memang sedang demam. Omo, bagaimana ini? Ottokhae?
“K-kris, neo gwenchana?” bisikku khawatir. Ia membuka matanya perlahan. “Mmh,” ia mengerang sedikit, wajahnya pucat. Aigo, bagaimana ini? “Kris! Gwenchana?” aku berusaha membantunya bangkit. Dan suhu tubuhnya memang sangat panas. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan mencari-cari handphone punya Kris di meja, siapa tahu ada yang bisa kuhubungi.
Kutelusuri kontak di handphone Kris, dan aku menemukan salah satu nama yang familiar. Shim Changmin! Aku akan menelpon supirnya dan minta jemput.
“Yeoboseyo?” terdengar suara berat dari ujung sana.
“Yeoboseyo. Apa ini dengan Changmin-ssi?” tanyaku terburu-buru. “Ne, saya sendiri. Ada apa? Dan ini siapa?”
“Saya temannya Kris, saat ini Kris sedang demam, dan saya bingung bagaimana harus membawa dia pulang. Apa anda bisa menjemput kami?”
“Ne, sebutkan alamat kalian berada saat ini.”
Aku masih berusaha membopong Kris keluar hotel. Kunci mobil dan mobilnya akan diurus oleh pihak hotel. Sementara aku kepayahan menjaga Kris di luar hotel sambil menunggu mobilnya Changmin-ssi.
15 menit kemudian, Changmin-ssi datang dan membantuku membopong Kris ke mobil, dan langsung membawa kami ke rumah Kris.
****
“Hanya demam biasa, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Memang sejak kecil Wufan-ssi itu tak tahan dingin.” ujar dokter yang menangani Kris. Saat ini namja pabo itu sedang tertidur lelap di atas ranjangnya yang super nyaman. “Oh, gomawo, dokter.” aku membungkuk pada dokter itu. “Ne, hanya tolong dijaga, dia tidak bisa makan sembarangan. Aku permisi.” dokter itu melangkah pergi dari kamar Kris. Aku membungkuk lagi, “Hati-hati di jalan.”
Aku berencana keluar dari kamar Kris, namun baru selangkah, seseorang seperti mengenggam tanganku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kris seperti sedang menahanku. “Apalagi? Kau akan dirawat oleh pelayan-pelayanmu itu. Aku harus pulang, orangtuaku akan khawatir.” ujarku.
Ia menggeleng lemah, “Jangan pergi. Temani aku disini.”
Aku menghela napas, mau bagaimana lagi. Aku yang bertanggung jawab karena jika aku tidak minta tolong padanya, dia tidak akan kerepotan dan sakit seperti ini. Aku lalu mengirim SMS ke Ryeowook-oppa karena aku tak bisa pulang hari ini dengan alasan aku ada tugas dengan Seohyun.
Kris akhirnya kembali terlelap. Aku berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di sisinya. Lihat, gara-gara kau aku sampai membohongi keluargaku demi menjagamu. Kau puas?
“Taeyeon-ah, Taeyeon-ah, mianhaeyo.” ia mengigau sepanjang tidurnya. Aneh, kenapa dia menyebutkan namaku ya? Aku yang terlelap di samping ranjangnya langsung terbangun.
Aku membelai dahinya yang berkeringat dingin. “Gwenchana, semuanya baik-baik saja.” Ia menggeleng, seperti dia sangat gelisah saja. “Mianhe, aku tidak bermaksud begitu,”
Beringsut dari tempatku duduk semula, aku bergerak untuk kembali mengompresnya. Namun dia kembali menggaet tanganku. “Apa? Aku akan mengambil kompres untukmu.” ujarku. Namun dia menggenggam tanganku erat-erat, dan tiba-tiba dia menarikku dengan cepat, hingga bibir kami bertemu.
Aku melebarkan mataku, tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat sendiri. Aku, aku berciuman dengan musuh bebuyutanku?
Dengan cepat aku langsung menarik tubuhku. Entah kenapa suasana jadi terasa panas dan canggung sekarang. Aku tidak berani menatap Kris. Pipiku pun merona merah saat aku mengingat kejadian barusan.
“Taeng,” ia berusaha bangkit dari tidurnya dan menatapku dengan heran. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya bingung. “A-aku? B-bu-bukannya kau yang minta aku tinggal disini?” aku mengibas-ngibaskan tanganku ke wajahku. Entah kenapa aku jadi susah berbicara padanya. “Oh, jinjjayo?” ujarnya polos. Wajahnya pun masih tenang, seolah-olah tidak terjadi apapun. Kris Wu, beraninya kau mencuri ciuman pertamaku!
“Aku, a-aku mau pulang!” aku bergerak mengambil tasku. “Taeng-ah! Jamkaman!” aku menoleh padanya dengan tatapan evil. “Mwo?”
“Aku lapar. Bikinkan aku bubur. Ya? Ya?” rengeknya. Aku menghela napas, “Ne. Tunggu sebentar.” Aku berjalan keluar kamarnya.
Beberapa saat kemudian aku kembali dengan semangkuk bubur di tanganku. “Ini, cepat habiskan. Aku mau pulang.” aku menyodorkan semangkuk bubur itu kepadanya, kemudian menaruhnya di meja dekat ranjang. “Aku masih sakit, aku tak bisa makan dengan baik.” rengeknya. Apa? Dasar namja yang benar-benar manja, lama-lama aku tak tahan menghadapinya. Aku hanya menghela napas sambil mengambil mangkuk bubur itu dan menyendoknya, kemudian menyuapi musuhku ini dengan terpaksa.
“Tidak enak, terlalu tawar.”
Aku jadi semakin geram dengan namja di depanku ini. Aku menaruh mangkuk bubur itu di atas meja dekat ranjangnya dengan ketus dan melempar tatapan tajam padanya. “Ya! Maumu itu apa sih? Dengar ya, aku sudah susah-susah membawamu pulang dari hotel karena kau sakit secara tiba-tiba. Kemudian aku terpaksa menungguimu sampai sadar, mengompresmu selama kau sakit karena aku merasa tidak enak dan benar-benar khawatir karenamu. Dan kemudian, kau menggaet tanganku seenakmu saja dan melarangku pulang. Akhirnya aku terpaksa menungguimu hingga tertidur disini. Kemudian kau sadar dan seenaknya men-“ aku menghentikan ucapanku. Aku tak mau memberitahu namja sialan ini kalau dia barusan mencuri ciuman pertamaku.
“Aku, kenapa?” tanyanya polos. “Men, menyuruhku membuatkanmu bubur. Dan setelah kubuatkan bubur, kau malah menolaknya mentah-mentah! Sekarang apa maumu sih? Kau benar-benar membuatku gila! Kau sudah membuatku gila akhir-akhir ini!” ups. Pabo Taeyeon, kenapa kau katakan itu sih? Pabo pabo pabo! Tapi dia hanya memandangku dengan tatapan pabo-nya. Syukurlah, mudah-mudahan dia tidak mengerti apa yang kukatakan.
Akupun menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya dengan paksa. Langsung saja dia tersedak. “Ya! Kau mau membunuhku ya?” protesnya sambil mengusap bibirnya yang terkena noda bubur. “Benar! Aku sangat ingin membunuhmu karena kau membuatku gila!” ujarku kesal. Aku lalu menyuapkan sesendok bubur untukku sendiri. “Ya! Itukan bubur punyaku!” ujarnya sewot. “Tapi kan aku yang membuatnya! Aku juga berhak tahu untuk memakannya!”
“Tidak boleh!”
“Enak saja!”
Dan kami kembali bertengkar dan bertengkar seperti biasa.
****
Aku berjalan menuju kelasku, melewati banyak lorong. Di sepanjang sisi lorong banyak siswa-siswi berlalu lalang, namun anehnya mereka menatapku dengan aneh. Tatapan tajam yang mengerikan, lebih baik kuabaikan mereka dan terus berjalan. Aku lalu berhenti di salah satu loker untuk mengambil buku pelajaran. Namun saat sedang mencari buku-buku pelajaran, seseorang tiba-tiba mengejutkanku dari samping.
“Boo! Selamat pagi pacarku!”
Sudah kutebak, dia adalah Kris Wu dengan wajah sok innocent-nya yang memuakkanku. Namun entah kenapa, aku tak berani menatapnya lama-lama. Aku langsung berpura-pura mengabaikannya dengan mencari beberapa buku yang kurang.
Namun tiba-tiba ia mendorongku dan memojokkanku ke loker. Bahkan kurasakan kalau jarak kami hanya berbeda beberapa senti. Aku tak berani menatapnya. Jantungku berdebar-debar dan pipiku memanas. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke lain arah. “K-kau mau apa heh?”
“Hei, kenapa kau tidak menatapku? Apa karena aku terlalu tampan? Hahaha, aku tahu itu! Tak perlu semalu itu.” ujarnya bangga. “T-tampan a-apanya? B-ba-bagiku k-kau je-jelek kok!” ujarku tergagap. Aduh Taeng, kenapa ngomong saja susah sih?
“Ayolah, lihat aku.” Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku mengibas-ibaskan tanganku sambil sesekali meniup-niupkan angin dari mulutku, mengurangi hawa panas yang tercipta karena alasan yang tidak jelas. “Aduh, disini panas sekali. Aku pergi dulu!” aku langsung mendorongnya kuat-kuat dan berlari-lari kecil menjauh. Di perjalanan menuju kelas, aku masih memikirkan tindakan Kris yang menurutku agak aneh, dan sensasi aneh yang kurasakan saat aku dekat dengannya. Bahkan sesekali aku teringat saat kejadian dia menciumku. Pipiku langsung memanas dan jantungku langsung berdebar keras.
“Andweee!!!” teriakku keras-keras. Langsung saja semua orang yang ada disini memandangku dengan tatapan aneh. Aku berpura-pura mengabaikan mereka dan berjalan masuk ke kelas.
TBC

5 thoughts on “Fake relationship part 7

  1. Aihhhh… Kris sukses menggoda taeng… Akhirnya ada sweet moment di chapt ini,,, kris nyium taeng, dan lagi2 menggoda taeng di depan loker…. Ajiiip,,, taeng malu

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s