Love is too late, I’m sorry

Love is too late. I’m sorry.

Cast:

Xi Luhan EXO M

Seo Joo Hyun SNSD

Genre: Romance/Angst

Length: Songfict

Terinspirasi dari songfic karangan artemisgoddes yang judulnya If You Come Into My Heart

.

.

Seperti yang sudah-sudah,

Salju pertama selalu terlihat indah

Dan itu berlaku pada siapa saja

Kecuali Seohyun

The most painful of leaving person is that they’ll never come after you…

Selangkah, dua langkah. Xi Luhan mungkin sekarang sedang mencari mati. Perlahan dia keluar dari rumah megah yang menurutnya adalah sarang berhantu demi melihat salju pertama. Yang mungkin sayang sekali untuk dia lewatkankarena tentunya dia tak boleh melihatnya sepanjang musim itu berlangsung karena penyakit asmanya yang tak kunjung sembuh selama 2 tahun ini.

Seorang gadis melambaikan tangannya dari jauhtepatnya dari samping pohon cemara tempat gadis itu berdiridan tersenyum manis padanya. Perlahan senyuman terukir di bibir Luhan. Yeah, mungkin hanya senyuman gadis itu yang akan membuatnya merasa baikan.

“Kamu sedang apa? Nanti sakitmu kambuh lagi Lu,” ujarnya khawatir saat menghampiri cowok itu. ”Gwenchana Hyun, buktinya 2 tahun ini aku sehat.” Kata Luhan menggampangkan.”Sehat apanya? Sana balik ke rumahmu! Aku takut kalau kau pingsan lagi,”

Luhan terkekeh pelan. Ia tersenyum kepada gadis itu dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas.“Ya ya, aku janji padamu. Aku akan baik-baik saja dan HIDUP SE-LA-MA-NYA! Aku janji itu Seo Joo Hyun!”

****

Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga lima tahun. Luhan masih bisa membuktikan ucapannya itu pada Seohyun. Seohyun sendiri masih sering menjenguk Luhan di rumahnya. Membawakan sup rumput laut hangat, atau ubi manis rebus favorit Luhan yang ia beli di depan perempatan. Sapaan-sapaan hangat selalu menemani pagi Luhan jika telepon miliknya berdering, menandakan panggilan dari Seohyun.

Sayang, waktu terus berjalan. Seohyun kini adalah seorang wanita dewasa yang tentu sangat memikirkan karir dan masa depannya.  Kini waktunya untuk menjenguk Luhan banyak tersita. Terkadang Seohyun lupa mengangkat panggilan dari Luhan.

Ya, mungkin hiburan Luhan satu-satunya hanya bermain gitar dan menunggu salju pertama. Mungkin dia tahu, menunggu itu sangat menyebalkan dan semua orang tahu itu. Tapi sungguh, ia tak mau melewatkan sedetikpun pemandangan turunnya salju pertama. Karena salju yang membuatnya selalu mengingat Seohyun. Karena ketika salju turun Seohyun selalu ada untuknya, disisinya. Karena baginya, Seohyun adalah salju.

****

Rupanya Luhan tak bisa menepati janji pertamanya, untuk selalu baik-baik saja. Asmanya kini semakin parah. Bahkan jika dia batuk akan keluar darah. Terkadang kepalanya juga terasa pusing. Karena itu, ia kini dirawat di rumah sakit terbaik di Seoul.

Kini Luhan adalah pasien di kamar VVIP rumah sakit itu. Kamarnya luas dan mewah, selalu dipenuhi buah-buahan segar. Tidak lupa suara bising para penjenguk di kamarnya yang rata-rata adalah teman Seohyun semua. Mungkin itu karena Seohyun yang famous di kantornya, bukan hanya sebagai sekretaris biasa, melainkan sekretaris tercantik disana.

Salju, gara-gara penyakit ini Luhan tak bisa melihat salju. Bahkan ia mungkin hanya bisa melihatnya dari jendela, atau televisi. Takkan bisa, dan takkan pernah bisa menyentuh dan merasakan suhu dingin itu dengan tangannya lagi. Hanya bisa menatapnya sendu dari jendela.

Hanya Seohyun mungkin yang mampu membuat Luhan bangkit kembali. Gadis itu terus berpikir bagaimana cara dia membangkitkan semangat dan senyum ceria Luhan seperti dulu. Ia berpikir untuk mengajak Luhan melihat sunset, supaya ia melupakan harapannya untuk melihat salju lagi, yang tentu akan membahayakan kesehatannya.

“Lulu!” panggilnya dengan nada super ceria. Senyumnya mengembang jelas di bibir tipisnya. Tak lupa dengan sebungkus goguma hangat yang ada di tangannya. Dia lalu menaruh bungkusan itu di meja Luhan sambil duduk di tepi kasurnya.

“Kau beda Hyun, kau sangat ceria hari ini!” kata Luhan memulai pembicaraan.

“Benarkah? Iya, hehehe.”

“Hehehe doang?”

“Lah trus?”

“Gak bagi-bagi, huh pelit.” Luhan memanyunkan bibirnya bagai anak kecil yang gagal merayu ibunya untuk dibelikan es krim.

“Hmm, kau mau kuajak ke suatu tempat?”

“Kemana?”

“Pokoknya, disana hangat dan nyaman.”

“Aku tak suka. Menurutku yang paling nyaman itu ya, tidur diatas salju.” Sahutnya cuek, ”Kaja Lulu, pokoknya more better than snow!”

“Masa?” Luhan mengerutkan alisnya. Seohyun mengangguk dengan kuat dan menggandeng tangan Luhan.

“Hyun, sudah sampai belum?” tanya Luhan.  Salah satu tangannya menggenggam erat tangan Seohyun, yang satu meraba-raba sekitartakut jatuh. Ia sungguh penasaran ingin melihat pemandangan yang disembunyikan Luhan.

“Belum,” jawab Seohyun singkat.

Desiran angin menerbangkan helai-helai rambut Luhan. Rasanya sangat sejuk saat angin-angin itu menggelitik tubuhnya.

“Kau siap ya? Hana… Dhul… Set!”

Seohyun melepas tangannya yang sedari tadi menutup mata Luhan. Perlahan Luhan membuka matanya dengan takut-takut.

Kilau-kilau emas menyambut pemandangan pertamanya. Tanpa pikir panjang Luhan membuka matanya lebar-lebar. Mengamati setiap detik keindahan saat sang surya tenggelam di ufuk barat. Bersama air-air asin yang terus membasahi kakinya.

“Wow,”

Seohyun mendekati Luhan, merangkul pria itu walau ia sendiri tahu, ia tak lebih tinggi dari Luhan. Membuat Luhan mematung karena merasa detak jantungnya meningkat lebih dan lebih. Meskipun Luhan sendiri tahu, ia sudah seringbahkan sangat sering mengalaminya. Sejak dulu, sudah lama dia merasakan ‘gangguan’ itu. Meski mengganggu, ia malah sangat menyukainya. Rasa berdebar yang datang dengan tiba-tiba.

“Jauh lebih baik kan, daripada salju?”

Kini Seohyun merangkul tangan Luhan dan menyandarkan kepalanya ke pundak Luhan. Makin membuat Luhan merasa bahwa detak jantungnya berhenti saat itu juga. Namun entah kenapa ia masih sadar walau jantungnya serasa berhenti. Aneh.

Yang ditanya hanya terdiam. Tak mampu berkata-kata. Bukan karena tercengang dengan sunset yang barusan dia lihat, atau karena keindahan pantainya. Melainkan karena sensasi dari rangkulan Seohyun. Sensasi yang membuatnya merasa melayang, tak mampu berkata-kata dan merasa tenggorokannya tercekat di pangkal. Menatap balik ataupun merangkulnya balik saja ia tak berani. Rasa yang aneh, namun menyenangkan baginya. Selama 10 tahun ini dia terus memendamnya. Seo Joo Hyun adalah cinta pertamanya, semenjak dia berusia 12 tahun. Sampai sekarang, rasa itu tidak pernah berkurangmalah semakin bertambah.

“Hyun, apa pernah jatuh cinta?” tanya Luhan tiba-tiba. Tanpa mengalihkan pandangannya dari pantai.

“Hm, pernah. Kalau Lulu sendiri kenapa tidak pernah jatuh cinta?” Seohyun mengeratkan rangkulannya. Menggenggam erat coat yang kini dikenakan oleh Luhan.

“Mungkin karena aku suka melihat salju, jadi perasaanku keburu membeku jika lihat seseorang.”

Seohyun tersenyum gemas dan mencubit pinggang Luhan, ”Aish, Hyun sakit tau!” pekik Luhan. ”Jawabanmu diplomatis banget! Kamu aneh deh!”

Luhan hanya meringis kecil. Ia mengusap hasil cubitan Seohyun dengan tabah sambil terkikik pelan. ”Tapi serius Hyun, kurasa kini aku sedang merasakannya. Tapi aku ragu dengan perasaan ini.” Luhansedikit berbisik di ujung kalimatnya. Ia menunduk. Namun kalimat itu masih terdengar jelas di telinga Seohyun.”Kenapa ragu? Punya perasaan itu tidak salah kok! Nyatakan saja padanya Lu! Keburu telat nanti jadinya berabe.” sahut Seohyun enteng.

Luhan hanya tersenyum sambil menggigit bibirnya. Kembali mendongak untuk melihat pemandangan.

****

“Nyonya, penyakit putra anda sudah terlalu parah. Kami rasa kami tak bisa mengusahakan lagi. Tiba-tiba kami menemukan komplikasi selain asma. Terlihat sel kanker sudah merambat di otak. Sel itu sangat kecil dan sangat cepat bekerja. Awalnya hanya kami kira kelelahan otak biasa, ternyata itu adalah sel kanker. Mianhamnida.”

Dr. Park membungkuk sebelum pergi dari ruang perawatan. Meninggalkan Luhan dan ibunya sendirian. Sang ibu menangis sambil memeluk Luhan erat. Luhan terpaku dengan tatapan kosong. Haruskah… Haruskah?

Kini Luhan mengganti hobinya dengan membaca. Bacaan yang dia pilih tentu bukan bacaan sembarangan, melainkan buku-buku pembangun jiwa adalah favoritnya. Ibu Luhan selalu membawakan setumpuk buku-buku favorit buah hatinya itutentu jika tidak kena marah dokter.

“Nyonya, Luhan tidak boleh membaca yang berat-berat. Dia harus istirahat total.” Kata Dr. Park suatu hari.

Kini ia memutuskan untuk membaca sebuah buku berjudul The 36 Strategies of the Chinese. Belum genap 2 halaman dia baca, rasa pening kembali menyerang di kepalanya. Bukan, bukan rasa pening. Rasa ngilu yang tajam dan semakin tajam. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Luhan menutup bukunya, memejamkan matanya berharap rasa ngilu itu akan pergi—namun itu sia-sia—karena sakit itu malah semakin tajam. Luhan menggigit bibirnya dan meremas-remas rambutnya.

“Tok tok tok.”

“Lu, ini aku Seohyun. Bisakah aku masuk?”

Untunglah, sakit itu langsung hilang ketika mendengar suara ketukan pintu dari Seohyun. Oh, Seohyun. Kau penyelamat.

“Masuklah,” jawab Luhan dengan suara—yang dibuat—senormal mungkin. Supaya Seohyun tidak tahu dengan kondisinya sekarang yang jauh dari kata normal.

“Lu, aku bawakan ddukbokki untukmu. Aku taruh di meja ya?” Seohyun datang dengan senyuman hangat yang selalu terukir di wajahnya. Ia melangkah dan menaruh ddukbokki itu.

“Gomawo, my love.” Luhan iseng memanggil Seohyun.”Apaan sih my love-my love?Trus peluk ciumnya kapan?” Seohyun memanyunkan bibirnya, yang diisengin malah balik bercandain.”Ntar deh kalau kamu beneran jadi pacarku.” Balas Luhan bercanda juga. Padahal itulah yang sebenarnya dia inginkan. Hatinya yang berkata begitu.

“Mwo? Pacar? Kau mimpi kali! Hahaha!” Seohyun tertawa renyah, ia lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Luhan.

Entah kenapa suasana jadi canggung sekarang. Luhan sendiri tidak seperti biasanyayang biasanya selalu ngocehsekarang menjadi pendiam. Ia menoleh pada Seohyun dan menatapnya dengan tajam, namun tatapan itu lembut. Seohyun mendongak dan membuat pandangan mereka bertemu. Entah apa yang dia rasakan. Seohyun merasa ada yang janggal. Sangat janggal.

“Hyun, kau bilang kalau punya perasaan itu tidak salah kan?”

“Iya, kenapa?”

Luhan terdiam. Ia menatap Seohyun dengan tatapan sama—masih tajam—seperti tadi. Menelan ludahnya. Bertanya pada hati kecilnya, untuk mencari keyakinan.

“Kalau aku menyukaimu, bagaimana?”

Seohyun tertegun. Apa ini? Apa yang terjadi dengan Luhan-nya? Luhan yang sangat ceria dan childish-nya.

Suara Seohyun tercekat. Ia menunduk karena enggan menatap Luhan. Sejurus ia langsung mendongak dan beringsut dari tempatnya duduk.

“Ini—Ini tidak benar. Bukan begini Lu. Maaf, jam besuknya sudah habis. Permisi.” Seohyun langsung mengambil tasnya, membungkuk dan keluar dari kamar Luhan. Meninggalkan Luhan sendirian yang sedang terpaku dengan tatapan sendunya pada Seohyun.

Pergi tanpa perpisahan adalah menyakitkan. Ia tidak ingin Seohyun menerimanya. Ia hanya ingin Seohyun menemaninya sekarang. Ia hanya ingin melihat Seohyun mengenakan gaun putih yang indah. Ia hanya ingin menggandeng Seohyun menuju altar dan mengikat janji di gereja putih yang suci.

Baru sepuluh menit kepergian Seohyun, rasa pening itu kembali menyerang batok kepalanya. Disertai rasa gatal di tenggorokannya. Luhan terbatuk-batuk dengan keras dan disertai keluarnya cairan kental berwarna merah itu. Ibu Luhan kebetulan baru masuk langsung terkejut dan memanggil dokter.

Mendung kelabu di kota Seoul. Entah kenapa kini kabut memenuhi kota. Padahal sekarang bulan Februari—dan harusnya musim dingin akan berakhir. Orang-orang bergegas dengan mengembangkan payungnya, menghindari terpaan salju yang mengenai kepala. Mereka ingin segera tiba dan menghangatkan diri di rumah. Seohyun berjalan tanpa arah. Pikirannya kacau. Berpuluh pertanyaan sinting terus memenuhi benaknya. Apakah hanya letih? Ataukah Seohyun juga mencintainya? Apakah ini pertanda buruk.

Ah, Seohyun ingin mengusir sekelebat pertanyaan itu. Ia tidak jadi ke kantor, melainkan ke bar terdekat untuk sekedar minum, walau ia tahu ia sendiri tidak bisa minum alkohol. Ia memutuskan untuk menenangkan diri sambil menunggu jam besuk berikutnya.

****

Tidak ada lagi besuk ke rumah sakit. Tidak ada lagi tawa dan canda dari kamar nomor 110 tempat Luhan dirawat. Gerimis salju tetaplah jarum-jarum kristal es yang menyakitkan ketika menyentuh kulit. Meskipun sudah tidak ada lagi Seohyun dan Luhan, salju takkan pernah mau dipaksa untuk berhenti. Sekalipun seorang Seohyun merasakan kepedihan yang luar biasa karena pria itu telah meninggalkannya, pria yang entah ia sebut atau cinta pertamanya.

Terpejam dalam buliran bening air mata kesakitan. Masih teringat benar jeritan ibu Luhan dari telepon mengabarkan bahwa Luhan sudah tiada. Mendengarnya ia langsung berlari secepat mungkin. Namun ia tahu, secepat apapun ia berlari, ia tetap menemukan keadaan Luhan yang masih sama, tidak bergerak.

“Kau bohong Lu, kau pembohong. Kau bilang kau akan hidup selamanya untukku.” Seohyun terkekeh sendiri walau masih sesegukan.

“Karena aku tidak menyayangimu, makanya Tuhan mengambil kamu. Jika aku mengakuinya, pasti ceritanya akan lain.” Menggumam sendiri. Di pemakaman yang pilu Seohyun terpaku. Ia bingung. Akankah ia menangis seperti bayi di depan para pelayat atau berupaya terlihat tidak sedih, walau ia sangat terguncang?

Rasa sayang yang muncul adalah normal. Rasa sayang sendiri adalah sisi lain dari sebuah pergaulan. Ketika Luhan mengakui kalau ia mencintainya, gadis ini malah menolaknya dengan kasar. Kini semuanya terlambat, sudah sangat terlambat. Batas antara hidup dan mati memang hanya seujung kuku.

“Cinta datang terlambat, maafkan aku.” Gumamnya sendiri. Kini ia tahu, musim semi akan datang terlambat. Ya, karena Luhan sangat menyukai salju. Mungkin ini adalah permintaan terakhirnya pada Yang Kuasa. Salju yang akan mengantarnya ke surga. Walau begitu, sepertinya Seohyun akan membenci salju. Karena salju telah membuat batas diantara mereka berdua.

Kepalanya terpaku pada satu sisi dari nisan granit hitam itu. Aneh, ada perasaan jatuh cinta untuk seseorang di dalam peti itu.

“Luhan…” Seohyun menangis di bawah lumeran salju. Baru diakuinya kini kalau ia juga mencintainya. Bodoh, ia benar merasa sangat bodoh. Kini ia hanya bisa menyesali semuanya. Menyesal kalau ia merasa sangat kehilangan “kekasih” tak terucapnya itu.

THE END

6 thoughts on “Love is too late, I’m sorry

  1. Pingback: [Rec] [id] Love is Too Late, I’m Sorry | Ai Seohan ♡ 

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s