Fake Relationship part 12

Part 12: Unfair!

Cast:

–          Kris WuYiFan

–          Kim Taeyeon

–          ByunBaekhyun

–          Park Jiyeon

Genre: Romance

Enjoy!

Untuk merayakan kemenangan kami, aku dan Baekhyun membeli banyak sekali camilan dan makanan lezat. Tentu saja, karena kami masih belum lulus, kami belum bisa merayakannya dengan minum soju. Kami akhirnya merayakannya di taman kota yang kebetulan masih ramai.

“Bersulang!” kami bersulang dengan dua gelas jus jeruk yang sengaja kami anggap sebagai pengganti soju. Ya tak apalah, paling tidak harus ada sesuatu untuk bersulang sebagai tanda perayaan kami. Kami memenangkan cek sebesar 20000 won dan aku berpikir untuk membaginya bersama Baekhyun. Aku menatap Baekhyun sambil meneguk jus jerukku. Namja itu tampak sekali sangat kehausan, terbukti dengan ekspresinya yang langsung terlihat kelabakan setelah meminum jus jeruk itu dalam sekali teguk.

Aku melirik pada dompetku yang sengaja kutaruh di sampingku, kemudian melirik Baekhyun. Kuketuk bangku taman ini dengan jemariku karena ragu. Seperti bisa membaca pikiranku, ia menggeleng. “Tidak usah, ambil saja semuanya.” Ujarnya tulus. “Tapi kita kan berjuang bersama, paling tidak kau juga harus terima,” aku bersikeras menyodorkan cek itu padanya, namun ia menolaknya dengan halus, “Simpan saja, mungkin noona bisa menggunakannya untuk sesuatu yang lebih berguna.”

Aku tersenyum, inilah salah satu alasan kenapa aku suka padanya.

“Oh ya,” entah kenapa pikiranku langsung jadi tidak enak. Baekhyun menoleh padaku. “Kenapa aku tidak melihat Krystal akhir-akhir ini?”

Baekhyun menggaruk kepalanya (yang sepertinya tidak gatal) dan tersenyum innocent. “Dia kembali ke Amerika sejak kemarin,” ujarnya. Mataku membelalak, “Se-secepat itukah?”

Ia mengangguk lemah, “Dan sebenarnya kemarin kami sempat putus.”

“Mwo-mwoya? Wae?”

Baekhyun kembali menarik napas panjang,

“Krystal sudah dijodohkan dengan orang lain. Karena itulah kami berpisah. Ya, orang tua Krystal tidak menyukaiku karena aku tidak sekaya orang tuanya. Bisakah kita tidak membicarakan ini, noona?” Baekhyun menatapku dengan tatapan ceria yang tampak dipaksakan.

Aku mengangguk lemah sambil menggigit cracker-ku. Kulirik jam tangan warna ungu-ku dan aku baru menyadari kalau aku tidak boleh pulang telat lagi…

“OMO! MianheBaekhyun aku lupa sekali!” kutepuk dahiku keras-keras karena kebodohanku. Cepat-cepat aku bangkit dari kursi taman dan hendak membereskan semuanya. Mau tak mau Baekhyun juga terlihat bingung melihat kelakuanku yang serba mendadak ini. “Waeyonoona?” tanyanya kebingungan. “Tidak ada bis yang akan lewat jam segini,” ujarku murung.

Baekhyun berhenti, kemudian ia terlihat menyunggingkan senyum nakal di bibirnya. “Bagaimana kalau aku yang mengantar noona pulang?”

Aku menatapnya dengan tatapan apa-kau-serius. Hampir saja aku mengatakan tidak. Namun bukankah itu adalah sebuah kesempatan berharga kalau seorang ByunBaekhyun mengajakmu pulang bersamanya?

Kuanggukkan kepalaku, “Memang kita mau naik apa?” tanyaku meragu. Ia melirik ke samping. Samar-samar kulihat kilau jahil di kerlingan matanya. Saat kuikuti kemana ia melirik, tampaklah sebuah motor yang lumayan agak seram berwarna hitam.

“Kau pasti sudah gila.” Ujarku bergidik menjauhinya. Namun Baekhyun lebih cepat dariku, ia menggandengku ke motornya dan memberikan helm-nya. “Kau akan baik-baik saja, percayalah.” Baekhyun naik ke motornya dan memakai helm-nya. Bulu kudukku seperti menggelitik leherku, namun apa boleh buat, tidak ada bus yang akan lewat selarut ini. Terpaksa aku naik di motor Baekhyun.

“Pegangan yang erat, aku akan ngebut.”

“Mwo? Memang kau tahu dimana rumahku?”

Baekhyun meraih tangan kananku dan melingkarkannya di pinggangnya. Entah kenapa rasanya pipiku seperti terbakar saat Baekhyun menyuruhku berpegangan. Dan kupikir, dia akan mengemudi pelan-pelan untuk menghabiskan waktu kami berdua bersama, namun tidak. Dia benar-benar serius soal ngebut! Kupikir aku hampir kehilangan jantungku, namun paling tidak ada Baekhyun bersamaku.

Dan lima belas menit kemudian kami sampai di depan rumahku. Tentu saja dengan petunjukku yang kuberikan dengan tergesa-gesa. Ia melepas helm-nya dan tersenyum innocent padaku. Sementara aku harus menahan diriku untuk tidak muntah gara-gara kelakuan anak ini padaku. Kutatap Baekhyun dengan deathglare andalanku.

“Kau sudah gila ya? Kau mau membunuhku?” omelku. Ia hanya tersenyum innocent, “Kan sudah kubilang pegangan yang erat, mianhenoona.” Aku menggembungkan pipiku.

Setelah Baekhyun pergi meninggalkanku di depan rumah, aku bergegas masuk ke dalam. Rupanya masih ada Ryeowook-oppa yang masih terbangun.

“Aku pulang,” ujarku. Ryeowook-oppa masih fokus dengan pertandingan bola yang masih ditontonnya. Sepertinya kali ini tim kesayangannya akan menang telak, maka dari itu ia tak terlihat marah meski aku pulang telat. “Oh ya, Taeng, jangan tidur dulu. Oppa dititipi seseorang tadi,” Ryeowook-oppa bangkit dari ruang keluarga dan masuk ke kamarnya, kemudian kembali dengan secarik amplop coklat di tangannya.

Kupandangi amplop itu, kemudian aku berlari ke kamarku dan bergegas membukanya. Itu surat. Dari siapa ya?

“UntukTaeyeon-unnie. Mian atas kepergianku yang terlalu tiba-tiba. Mungkin saja Baekhyun-oppa sudah memberitahumu tentang alasanku pulang mendadak. Sebenarnya, alasanku untuk mengenalmu lebih jauh ialah, karena kupikir Baekhyun-oppa sangat menyukaimu. Dan kupikir kau adalah menggantiku yang terbaik karena itu, tolong jangan kecewakan Baekhyun-oppa. Asal kau tahu saja, sebenarnya alasanku pulang mendadak ialah karena aku harus dijodohkan dengan seseorang. Dan orang itu adalah Kris-oppa. Namun aku menolak perjodohan itu dan aku memilih untuk dijodohkan asal jangan dengan Kris-oppa. Tolong jangan salah paham, aku sangat percaya padamu untuk menjaga Baekhyun-oppa. Bukan berarti aku membuang Baekhyun-oppa, tapi ini adalah sebuah keharusan untukku. Gomawounnie, terima kasih banyak. Krystal.”

Mataku melebar, apa-apaan ini? Lalu apa maksud permintaannya kemarin untuk menjaga Kris? Awalnya aku merasa tidak enak dengan permintaan Krystal yang seperti sangat membutuhkanku ini. Karena aku merasa seperti merebut Baekhyun dari Krystal, namun apa boleh buat. Ini adalah permintaan dari seorang gadis baik sepertinya. Kupikir Krystal adalah gadis yang benar-benar sempurna dan cantik, namun rupanya dia harus menanggung semua beban keluarga seperti itu.

Kumasukkan surat itu ke amplopnya, menaruhnya di meja belajarku dan pergi tidur.

****

Ini hari yang sangat sangat sangat panas! Dan parahnya lagi, sepertinya kepala sekolah kami sangat gemar menjemur kami dibawah terik matahari yang panasnya jauh lebih panas dari oven kantin.

Kepala sekolah kami mengetes mikrofon-nya, kemudian menatap ke seluruh penjuru lapangan yang terlihat malas-malasan karena cuaca yang sedang tidak menentu ini. “Selamatpagi, SMA Jeonju!” sapanya dengan penuh semangat. Ya, semangat, karena kepsek saat ini tengah berdiri di depan lapangan yang ditutupi tenda. Sementara kami menyambutnya dengan malas-malasan.

“Hari ini, aku akan mengumumkan kalau hari Minggu besok, kita akan mengadakan promnight di pulau Jeju dalam rangka perayaan ulang tahun sekolah kita. Yang tentunya akan didanai oleh pemilik yayasan kita ini, Tuan Wu!”

Dan seketika, suasana yang tadinya lengang berubah menjadi ceria. Begitu mendengar kata promnight, semuanya langsung menjadi tegap dan menyembunyikan senyuman senyuman tidak jelas. Dasar.

Namun jujur saja, sebenarnya aku juga sangat senang mendengarnya. Demi menjaga image-ku yang high-classy, aku hanya berdehem mendiamkan kegaduhan para siswa. Namun sebenarnya rasanya hatiku ingin meloncat-loncat saja. Tidak kusangka akhirnya kepsekberbaik hati memberi kami sedikit refreshing untuk menjernihkan pikiran.

Aku iseng melirik barisan lelaki di sebelahku, mataku mencari-cari sosok tinggi yang biasanya paling mencolok itu. Ya, Kris adalah siswa laki-laki tertinggi disini. Namun entah kenapa, kali ini kulihat ia sedang berjongkok diantara siswa lainnya dan mengibas-ibaskan

topinya ke arahnya. Aku tertawa kecil, raksasa ini rupanya tidak tahan panas juga.

****

Para siswa sedang menunggu antrean untuk pesawat. Sementara aku sendiri sibuk untuk membagikan nomor urut untuk pasangan tempat duduk. Aturannya, setiap siswa yang mendapat nomor yang sama, artinya mereka akan jadi pasangan di tempat duduk saat berangkat menggunakan pesawat nanti. Seusai membagi nomor, aku mengambil nomorku sendiri. Aku mendapat kartu warna hijau nomor sebelas. Kartu warna hijau khusus dimiliki oleh siswa kelas tiga. Sementara biru milik siswa kelas dua, sedangkan merah milik siswa kelas satu.

Kini aku hanya harus mencari pasanganku. Entah kenapa saat aku memasuki ruang kelasku, semuanya tampak sudah menemukan pasangan masing-masing. Aku mulai kebingungan saat tidak ada orang yang mengaku sedang memegang kartu nomor sebelas. Oh! Aku harus mencari Seohyun!

Kucari-cari sosok gadis yang lebih tinggi dariku itu. Dan ia kutemukan sedang ngobrol berdua dengan seorang teman sekelasku Tiffany.

“Seohyun!” panggilku dengan agak kencang dan terengah. Ia tampak kaget saat melihatku dengan keadaanku yang mengenaskan. Kelelahan. Aku menunjukkan kartuku padanya, namun ia hanya menggeleng lemah. “Mianhe ya Taeng, pasanganku adalah Tiffany.” Ia menunjukkanku kartu bernomor sembilan. Aku menjatuhkan diriku di bangku taman tempat Seohyun dan Tiffany duduk. “Terus bagaimana?” tanyaku putus asa.

Seohyun terdiam sebentar, kemudian tiba-tiba matanya melebar. “Coba tanya Baekhyun! Mungkin nomor kalian berdua sama!” ujarnya innocent. Aku memukul pundaknya pelan. “Diakan murid kelas dua mana mungkin dia akan berpasangan denganku paboya!” aku memukul dahiku, sementara Seohyun menggaruk kepalanya innocent.

Tiffany menggigit es krim loli rasa pisang-nya. “Aku tadi melihat Kris sedang mencari pasangannya. Dia kelihatan putus asa.” Ujarnya. Mataku membelalak mendengar perkataan Tiffany, “MWO? K-KRIS?”

Dan rupanya Tiffany benar. Setelah selama lima menit menunggu di bangku pesawat yang kebetulan di sebelah jendela, orang yang paling tidak kutunggu datang mengisi posisi yang kosong di sampingku. Orang itu hanya mengacuhkanku dan langsung memasang headset-nya di telinganya dan memejamkan matanya.

Tch, aku… Aku sama sekali tidak peduli dengannya! Mau dia duduk dimana, yang penting dia tidak menggangguku. Itu saja.

“Aku sudah tahu kalau seseorang pasti merencanakan ini. Tunggu, bukankah kau yang membagikan nomor? Hey! Harusnya kau pasangkan aku dengan Jiyeon!” protesnya. Aku menggeretakkan gigiku, “Bisakah kau tidak cerewet? Mana kutahu kalau kita akan berpasangan!”

Oke, aku keterlaluan. Seisi pesawat seperti memelototiku karena aku baru saja membentak tuan muda mereka. Tidak enak akan hal ini, aku hanya memilih mundur dan berpura-pura membaca buku. Kris menyunggingkan senyum kemenangannya, namun aku tak menggubrisnya. “Jangan pernah membentakku di depan umum, kau tahu kan seberapa berbahayanya fansku.” Ia terkekeh.

Aku menggembungkan pipiku, dan dalam hati aku mengatur beberapa rencana untuk membalas dendamku.

****

Boa-songsaenim merapikan barisan kami saat kami berada di depan hotel. Sebelumnya, bersama para guru yang lain, beliau membagikan nomor yang akan menentukan teman sekamar kami. Dan sialnya lagi, rupanya aku harus berpasangan dengan Jiyeon. Oh Tuhan, apa sebangku bersama Kris di dalam pesawat itu tidak cukup?

Jiyeon menatapku dengan sinis, kemudian memandang nomor di kartunya dengan gaya sok high-classy miliknya. “Wow, rupanya kita sekamar.” Ucapnya dengan nada yang sepertinya sudah di-setting terlebih dahulu. Aku menahan ekspresi mengerikanku, dan mendorong ekspresi sinisku keluar sambil menarik salah satu sudut bibirku. “Whoa, itu adalah sebuah kebetulan. Kuharap kita akan saling menghargai satu sama lain. Permisi.” Ucapku dengan gaya sehigh-classy milikku sambil menarik koperku ke dalam.

Kubuka pintu kamarku, dan aku hanya menatap kosong keadaan di dalamnya. Wallpaper warna biru langit, karpet merah yang menjadi alasnya, kemudian ruangan yang sangat luas. Hebatnya lagi tersedia dua tempat tidur yang berarti aku tidak perlu tidur seranjang dengan anak manja itu. Aku berjalan masuk ke dalam, kusandarkan koperku di salah satu sisi dinding. Bahkan tersedia kamar mandi di dalamnya. Dan kamar mandinya juga tidak kalah luas dan mewah!

Aku duduk di sisi sebuah ranjang yang sudah kuklaim menjadi wilayahku – yang berarti Jiyeon tidak diperkenankan menyentuh ranjang ini apapun alasannya – sambil menikmati pemandangan di jendela. Aku memang sengaja memilih ranjang di dekat jendela supaya aku bisa melihat pemandangan secara langsung, apalagi kami akan bermalam disini selama beberapa hari.

Aku keluar dari kamar mandi seusai menyegarkan diri dengan air hangat di kamar mandi super mewah itu. Jiyeon terlihat sedang menyisir rambutnya yang panjang tergerai di depan cermin. Well, harus kuakui kalau sebenarnya Jiyeon itu cantik. Namun sayang, tidak sebanding dengan hatinya yang sombong. Bukankah sayang.

“Oh, kau sudah selesai? Mandi saja lama sekali. Jangan bilang kau tertidur, nanti orang-orang menyangka aku menenggelamkanmu lagi. Minggir, aku mau mandi.” Ia memasuki kamar mandi itu sambil mengikat rambutnya. Aku mencibirnya, kemudian melangkah ke meja rias itu. Beberapa barang-barang Jiyeon sudah tertata disana. Ada parfum, peralatan makeup..

Tiba-tiba Jiyeon membuka pintu kamar mandi, namun ia hanya menyembulkan kepalanya. “Jangan sentuh parfumku, semuanya mahal tahu!” dan ia kembali masuk. “Enak saja! Aku saja tidak sudi menyentuh barang-barangmu!” teriakku balik. Dan aku langsung bergegas mengganti bajuku.

Beberapa saat kemudian, Jiyeon kembali dari mandinya. Kupandangi diriku dalam blus musim panas yang kuingat dibelikan Kris saat kami ke butik bersama. Blus warna oranye dan celana panjang warna biru ini cocok sekali membalut tubuhku. Kukepang rambutku menjadi dua. Hm.. perfect!

Entah kenapa Jiyeon langsung menatapku dengan tatapan curiga. Ia tampak seperti mengendus-endus sesuatu, kemudian ia mendekatiku dan menatapku dengan tatapan curiga. “Kau memakai parfumku ya?” serangnya. Mataku membulat. Tanpa ragu kulabrak dia, “Enak saja! Kau punya bukti kalau aku yang melakukannya?” tegasku. Bajumu, berbau seperti parfumku. Sudah mengaku saja! Hanya butik tertentu yang menjual parfum dan baju yang berbau seperti ini!

Tiba-tiba tangannya meraih sesuatu dari kerahku, kemudian membaca label bajuku yang masih tertempel disana. Matanya membulat dan kemudian menatapku curiga. “Kupikir kau termasuk siswi yang tidak mampu disini. Kau mencuri di butik ini ya?”

Ini resmi, aku tidak akan segan untuk menghancurkan reputasiku demi membuat anak kecil ini berhenti memfitnahku yang tidak-tidak.

“Hey. Bisakah kau jaga mulutmu? Aku tahu aku ini miskin. Aku ini memang sangat miskin. Tapi aku punya harga diri dan aku tidak seperti dirimu yang murahan dan hanya bisa menghina orang.” Dan aku akhirnya kelepasan. Jiyeon membulatkan matanya dan langsung menyerangku hingga aku jatuh ke ranjang. Dan ia mulai menarik-narik rambutku, sementara aku melakukan hal yang sama.

“Kau mengatakanku murahan? Beraninya dasar kau gadis tidak tahu sopan santun!”

“Harusnya kau yang tidak tahu sopan santun! Jaga mulutmu!”

Dan kami saling menyerang satu sama lain hingga akhirnya tiga orang laki-laki langsung menghentikan kami.

“Hei! Kalian ini sudah kelas tiga! Jangan kacaukan reputasi kalian!” ujar seorang namja pertama yang kutahu bernama Kangta-songsaenim. Dan lebih memalukannya lagi, dua namja yang lainnya adalah Kris dan Baekhyun. Baekhyun sendiri sedang memegangi lenganku.

Aku masih menatap Jiyeon sambil menahan air mata yang mendesak keluar. “Enak saja. Dia sudah menghancurkan harga diriku. Mana mungkin aku tidak melawan gadis seperti dia? Dia asal menuduhku mencuri parfumnya hanya karena aku adalah siswi tidak mampu. Dia harusnya mendapatkan pelajarannya.” Ujarku sambil hendak menyerangnya lagi. “Taeyeon hentikan! Tenangkan dirimu!” Kris membentakku keras.

Ini pertama kalinya… pertama kalinya Kris berteriak padaku. Sebenci apapun ia padaku, belum pernah ia berteriak padaku. Dan entah kenapa, mendengar ia membentakku, rasanya hatiku seperti hancur. Sebelum air mataku deras, aku menghempaskan genggaman Baekhyun dan langsung pergi keluar hotel.

Pikiranku kacau, apa-apaan semua ini. Kalau ini semua adalah candaan, harusnya ia tidak perlu seserius itu. Maksudku, kenapa dia lebih memilih Jiyeon daripada aku? Kuistirahatkan diriku di sebuah bangku taman yang tersedia. Kubiarkan air mataku berlinang tanpa kusadari. Aku benar-benar kesal, marah, marah kepada semuanya yang lebih memihak Jiyeon daripada aku. Apalagi Kris. Kenapa dia harus membentakku juga? Apa dia memang begitu menyukai Jiyeon?

Semuanya sangat tidak adil.

TBC

6 thoughts on “Fake Relationship part 12

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s