Fake Relationship part 14

Part 14: I love… No. I hate him.

Cast:

–          Kris WuYiFan

–          Kim Taeyeon

–          ByunBaekhyun

–          Park Jiyeon

Genre: Romance

Kris masih melempar deathglare kepada Baekhyun, begitu juga Baekhyun. Aku tak bisa melakukan apapun selain menatap dua orang namja yang sepertinya siap bertempur kapan saja itu.

“Hyung apa-apaan kau ini? Kau sudah memiliki teman kencanmu sendiri, tidak sopan jika kau main merebut tangan Taeyeon noona begitu saja.” Baekhyun angkat bicara duluan. Kris masih menggenggam tanganku, kemudian tersenyum sinis, “Siapa yang menyuruhmu berkencan dengan Krystal hah? Lagipula aku mengencaninya terlebih dahulu, jadi sebaiknya jangan pernah mendekati Taeyeon lagi.”

Entah kenapa kami jadi pusat perhatian mendadak. Namun sepertinya Baekhyun dan Kris tidak peduli.

“Maaf saja, aku dan Krystal sudah putus beberapa hari yang lalu. Lihat dirimu, kau sudah memiliki Jiyeon disana. Kuperingatkan dirimu agar tidak mempermainkan hati Taeyeonnoona lagi.”

Baru pertama kali, baru pertama kali aku melihat Baekhyun berbicara sekasar itu kepada Kris. “Baru beberapa hari saja kau sudah langsung berpindah hati. Namja macam apa kau ini?” balas Kris tidak terima.

“DIAM!” kuhempaskan genggaman tanganku dari Kris dan menatap mereka berdua dengan tatapan tajam. “Apa yang kalian lakukan ini? Lihat, gara-gara kalian, kita jadi pusat perhatian. Kalian harusnya malu dengan apa yang kalian lakukan!” aku mengusap air mata yang terlanjur mengalir di pipiku, mengambil tasku dan langsung berjalan keluar ruangan. Kulihat Jiyeon tersenyum sinis dan langsung merengkuh lengan Kris. Namun aku tidak peduli, aku sungguh tidak peduli.

Entah sampai mana aku berjalan, yang jelas aku ingin tenang dulu. Malam sangat gelap, dan aku hampir tidak bisa melihat apapun, sekarang aku sedang tidak dimana-mana. Aku mulai kehilangan arah dan kebingungan harus pergi kemana. Aku mulai panik, hingga aku mendengar suara gemerisik dari semak belukar yang ada di belakangku. Apalagi segalanya gelap, dan kalian semua tahu betapa bencinya aku dengan kegelapan.

Keringat dingin mengalir di pelipisku, namun aku tetap mengunci mulutku. Jika aku berteriak, takkan ada gunanya karena sekarang sedang tidak ada siapa-siapa. Aku takut, sungguh, aku sangat takut. Pikiranku mulai berputar-putar meneriakkan nama Kris dan berharap supaya ia datang kemari dan menolongku sekali lagi. Namun masa bodoh dengan Kris, aku hanya ingin pulang ke hotel!

Beberapa orang pemuda datang, mungkin empat orang. Mereka memakai pakaian acak-acakan dan nampaknya mereka adalah preman. Kudekap dompetku erat-erat, berharap mereka akan meninggalkan aku sendirian. Namun mereka seperti mengerumuniku.

“Wah, ada gadis cantik sendirian di malam seperti ini. Apa kau mau bersenang-senang nona?” seorang namja mulai mencoba menyentuhku, namun kupukulkan dompetku ke tangannya. “Jangan mendekat, kuperingatkan kalian.” Ancamku. Namun mereka malah tertawa terbahak-bahak. “HeyJoon, kita bergantian saja.” Ujar seorang namja satunya. Air mataku mulai mengalir, “Jangan mendekat!” teriakku sambil mencoba menahan air mataku.

Seorang namja mulai mencoba menyentuh pundakku, kupejamkan mataku erat-erat.

“Kuperingatkan, jangan ada dari kalian yang berani menyentuhnya!”

Kubuka mataku, aku mendengar suara namja dari sana, suara itu terdengar familiar namun aku tak dapat mengenalinya, malam terlalu gelap. Siapapun dirinya, aku akan sangat berhutang banyak.

Seorang preman mendekati namja itu dan melayangkan tinjunya, namun bisa kulihat kalau ia menghindarinya dengan gesit kemudian balas melayangkan tinju ke wajah preman itu hingga preman itu jatuh tersungkur. Disusul preman lainnya, oh tidak, ia membawa pisau di tangannya! Aku masih gemetar ketakutan saat preman itu mencoba menyabetkan pisaunya.

“AHH!” aku berteriak saat sabetan pisau itu berhasil mengenai pemuda itu, namun syukurlah hanya tangan kirinya yang kena. Pemuda itu lalu menendang tangan preman yang memegang pisau itu, kemudian meninjunya hingga jatuh tersungkur. Sementara preman yang tadinya mengerumuniku langsung lari kelabakan.

Aku masih menutup mataku karena syok akan kejadian ini. Hingga sesuatu memegangi pundakku. Kubuka mataku dan mendapati Baekhyun yang tersenyum manis padaku. Apa, apa mungkin namja yang menolongku tadi itu Baekhyun?

“Noona, gwenchanayo?” tanyanya. Aku tak menjawab dan langsung memeluknya erat sambil menangis. Ia mengusap-usap punggungku dengan lembut, “Gwenchana, semuanya baik-baik saja.” Hiburnya.

Ia membantuku kembali ke kamarku dengan hati-hati, kemudian menidurkanku di ranjang dengan perlahan. Ia lalu meraih sebuah selimut dan menyelimutiku. Seperti biasa, kamar selalu kosong tanpa Jiyeon.

“Baekhyun, aku merasa tidak enak karena aku berhutang padamu dua kali. Yang pertama kau harus menggendongku saat aku mabuk, kemudian kau menyelamatkanku dari preman-preman itu.” Ujarku lirih. Baekhyun berdehem, “Sebenarnya yang menyelamatkanmu dari preman-preman itu Kris-hyung, aku hanya membantumu pulang itu saja.” Ujarnya sambil mengalihkan pandangannya.

Kris? Oh great, aku sudah berkali-kali berhutang padanya. Mau ditaruh dimana mukaku ini?

Baekhyun kembali menatapku dan tersenyum, “Tidurlahnoona, ini sudah malam.” Aku mengangguk dan tersenyum padanya, “Jaljayo.”

Normal POV

“MWO? Kalian gagal? Yang harus kalian lakukan adalah membuatnya jera untuk mendekati Kris-oppa, hanya itu. Dan kalian gagal hanya karena seorang namja? Kalian itu berempat dan harusnya kalian bisa mengurus seorang namja!” Jiyeon agak sedikit berteriak dalam teleponnya. Ia sungguh kesal, rencana yang ia buat sejak kemarin gagal hanya karena anak buahnya yang tidak becus menjalankan perintahnya.

Ya, preman-preman yang hendak mengganggu Taeyeon tadi adalah bagian dari rencananya juga yang sayangnya gagal. Ia menutup teleponnya dengan emosi. Mulanya ia hendak berbalik dan langsung kembali ke kamarnya, namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Kris ada tepat di belakangnya. Tepatnya sambil menatapnya tajam.

“Kau, kau. Dasar kau gadis jahat. Aku tidak pernah membayangkan kalau kau akan bertindak sejauh ini.” Kris masih menatap Jiyeon tajam. Awalnya ia terkejut dengan kedatangan Kris, namun ia hanya tersenyum sinis sambil menatap Kris. “Lalu apa? Kau mau memberitahu ibumu untuk memutuskanku? Jawabannya adalah tidak mungkin. Sayangnya ibumu lebih memilihku yang lebih cantik dan kaya daripada gadis tidak sopan itu.”

“Dengar, jangan pernah menyentuh Taeyeon lagi, atau kau akan mendapatkan balasannya.”

Jiyeon kembali terkekeh, dan melipat tangannya. Kris masih terdiam dan tak mampu menjawab. “Coba kita bandingkan. Kau, lebih memilih dia yang jelas-jelas tidak ada apa-apanya dari..” Jiyeon menunjuk dirinya sendiri, “Aku.” Kris mengepalkan tangannya. “Yang jelas Taeyeon tidak selicik dirimu. Asal kau tahu, jika pernikahan ini benar-benar terjadi, akan kubuat hidupmu benar-benar menderita.” Ia kemudian meninggalkan Jiyeon yang masih menatapnya dengan tatapan kaget. “Kris! Kau takkan berani menyakitiku! Tidak akan pernah!” ujar Jiyeon kalap sambil menghentak-hentakkan kakinya.

****

Taeyeon POV

Entah kenapa, setelah kejadian itu Kris tampak menghindar dariku. Biasanya jam sepagi ini puluhan SMS darinya sudah membanjiri ponselku, namun ini sudah jam delapan pagi dan kotak masukku mungkin hanya penuh dari SMS Baekhyun. Kris, tidak ada satupun SMS mampir darinya. Untuk beberapa alasan aku merasa kehilangan sesuatu dari dalam diriku.

Aku sibuk mengambil sarapanku di dapur. Dan tinggal sedikit saja, aku pasti bisa mengambil piring yang ada di rak atas. Salahkan tinggi badanku yang langsung berhenti ketika mencapai 162 cm!

Masih dengan susah payah aku berjinjit untuk meraih piring untuk sarapan. Namun tiba-tiba, entah karena terpeleset atau apa, lebih dari satu piring yang kuharapkan rupanya hampir jatuh mengenaiku. Aku refleks menutup kedua mataku supaya tak ada apa-apa yang terjadi. Yang kunantikan adalah suara piring-piring pecah yang akan berjatuhan, namun tak terjadi apa-apa. Kuberanikan diri untuk membuka mata, itu Kris yang sedang menahan beberapa piring itu.

Ia menatapku dengan tatapan dinginnya, bahkan kupikir jauh lebih dingin dari biasanya. Ia lalu mengambilkanku sebuah piring. “Lain kali hati-hati, bahaya jika piring-piring itu jatuh mengenaimu.” Ujarnya dingin. Aku masih terpaku memandangnya, “Mianhe.” Ujarku lirih. Ia tidak menjawabku, lalu berbalik pergi dan meninggalkan sebuah tatapan kosong dariku. Entah kenapa aku merindukan Kris yang sering menyalahkanku karena aku yang pendek.

Duh, Taeyeon apa yang kau pikirkan sih? Kau minta diperhatikan olehnya? Bukankah kau harusnya senang dia tidak mengejekmu lagi?

Aku memukul-mukul kepalaku dengan frustrasi.

Ya, ini resmi. Kris kelihatan sangat aneh. Ia tampak seperti menghindariku. Saat itu aku dan Seohyun sedang membeli beberapa aksesori. Kupikir aku melihat Kris tadi, jadi aku perhatikan sosok yang tampak sedang mencoba beberapa kacamata itu bersama yeoja yang kutebak pasti Jiyeon. Namja itu menoleh padaku, dan itu benar memang Kris. Namun ia tampak tidak senang melihat keberadaanku dan langsung meninggalkan toko aksesori ini. Bahkan saat perjalanan pulang kami, ia tampak mengacuhkanku dan hanya peduli dengan headset yang menempel di telinganya.

Aku hendak mengajaknya mengobrol, namun paling tidak aku memiliki harga diri! Yah, terlalu mementingkan harga diri ternyata membuat suasana diantara aku dan Kris saat di pesawat semakin kikuk. Sesekali aku menoleh padanya, namun aku tak berani menatapnya terus-terusan. Hingga suatu kejadian saat tatapan kami sama-sama bertemu. Kontan saja kualihkan pandanganku dan menarik napas panjang, Taeyeon kau ketahuan!

“Ahem,” Kris pura-pura berdehem. “Kau, kau sengaja mencuri-curi pandang padaku bukan?” ia agak sedikit terkekeh. Pipiku memerah dan langsung memasang deathglare padanya. “E-enak saja! Aku hanya menoleh kepada Tiffany kok!” bantahku gelagapan, “Lagian kenapa kau juga mencuri-curi pandang kepadaku hah?” serangku balik. Kali ini ia yang tampak gelagapan dan emosi. “M-mwo? Siapa yang mencuri pandang kepadamu hah? Kepedean sekali.” Ujar Kris tampak emosi. “Kenapa kau jadi gelagapan dan berkeringat dingin hah? Keringat dingin di pelipismu membuktikan segalanya.”

Kris mengibas-ibaskan buku yang sedari tadi ia pegang.“A-apanya? Itu, itu karena disini panas sekali tahu!” ia lalu berakting seolah-olah sedang meniup udara di sekitarnya. Aku terkekeh, “Kau tidak bisa berbohong Kris, disini itu lumayan dingin. Kau kalah.” Ujarku balik. Kris tampak semakin gugup, “M-mwo? Lagipula, aku tahu kau sengaja menatapku. Tempat duduk Tiffany itu ada jauh di belakang sana, dan di seberang kursi kita itu tempat duduknya Sooyoung!”

Gawat, paboTaeyeon kenapa kau tidak sadar akan hal ini?

Dan kami akhirnya saling melempar ejekan kembali. Bertengkar dan bertengkar. Namun jujur, aku lebih suka Kris yang seperti ini. Aku senang Kris kembali seperti biasanya.

****

Normal POV

Jiyeon berjalan memasuki rumah Kris. Sematang mungkin, rencana sudah jauh-jauh ia siapkan di kepalanya. Tentu saja, rencana itu berkaitan tentang rencana untuk mengusir jauh-jauh Taeyeon dari penglihatannya. Ia berhenti sejenak saat mencapai aula depan, kemudian perlahan-lahan ia teteskan obat mata itu ke matanya. Bekal akting yang baik adalah sebuah keharusan baginya.

Di kursi ruang tamu yang membelakangi pintu depan, tampak ibu Kris sedang menikmati sorenya dengan secangkir teh hangat. Ibu Kris menyadari kedatangan Jiyeon, kemudian langsung menaruh gelas teh itu dan menghampiri Jiyeon dengan gembira.

“Jiyeon! Kau datang juga. Ada apa? Kau kelihatan buruk sekali. Neogwenchana?” Ibu Kris menyapa Jiyeon dengan manis. Berbekal kemampuan aktingnya, Jiyeon mulai beraksi. “Ahjumni, lihat apa yang Kris lakukan padaku.” Ia mengerucutkan bibirnya. Ibu Kris menaikkan sebelah alisnya dan langsung mengajak Jiyeon duduk di sofa tamu dengan khawatir. “Wae dengan Kris?” tanyanya.

Jiyeon mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, foto ketika Kris sedang menggandeng Taeyeon erat saat di promnite sekolah. Melihatnya, amarah Ibu Kris langsung mencapai puncaknya. Ia lalu memukul meja mendengarnya. “Apa-apaan dengan Kris? Lalu siapa gadis ini?” tanyanya dengan emosi yang meledak-ledak pada Taeyeon. “Seorang siswi yang masuk ke SMA Jeonju karena beasiswa, jelasnya seorang yang tidak selevel dengan kita Ahjumni,”

Berpura-pura menangis dengan air mata palsu, Jiyeon menjelaskannya lebih lanjut. “Mianhaeahjumni, aku tidak seharusnya meminta lebih kepada Anda. Aku tahu aku bukanlah apa-apa, tapi tindakan Kris menyakitiku. Melihatnya bersama dengan Taeyeon menyakiti hatiku.” Air mata palsu Jiyeon mengalir lebih deras. Ibu Kris langsung membelai-belai punggung Jiyeon. “Gwenchana, aku akan melakukan sesuatu. Maafkan tindakan Kris.” Hibur Ibu Kris. Sambil merunduk, entah kenapa Jiyeon tersenyum sinis yang sayangnya senyumannya tertutupi oleh rambutnya yang terjuntai.

Suara seseorang yang masuk mengagetkan Jiyeon dan Ibu Kris. Itu Kris yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. “Kris, ibu perlu bicara denganmu.” Ujar Ibu Kris keras. “Eomma,” ujar Kris lirih saat mendapati ada Jiyeondisana. Entah kenapa ia bisa merasakan pertanda buruk.

“Jauhi gadis bernama Taeyeon itu, atau eomma yang akan menjauhkan dirimu darinya.”

Mata Kris membulat, “Eomma kau tidak bisa melakukan itu, itu tidak adil!” protes Kris. “Sekalieomma bilang begitu, kau tidak bisa melakukan apapun.” Balas Ibu Kris. “Arrggh! Aku benci kalian semua, dan terutama kau gadis jahat!” Kris menunjuk Jiyeon, kemudian melangkah ke kamarnya dengan amarah.

Taeyeon berjalan ke kantin dengan perasaan aneh. Entah kenapa semua orang menatapnya dengan serius, kecuali Seohyun yang masih menemaninya dan menggelengkan kepalanya pada Taeyeon, meyakinkan sahabatnya itu kalau semuanya baik-baik saja. Hingga kepala sekolah tiba-tiba mendatangi Taeyeon yang sedang sibuk memakan makan siangnya.

“Namamu Kim Taeyeon, benarkan? Ikut aku ke kantor.” Ujar kepala sekolah yang membuat Taeyeon dan Seohyun menatap satu sama lain, lalu mengangguk pelan.

Di kantor kepala sekolah, tampak beberapa orang guru ada di dalam. Kemudian tampak seorang wanita yang tampak familiar dengan Taeyeon… Itu… itu Ibu Kris!

“KimTaeyeon, rupanya kita pernah bertemu. Kupikir orangtuamu adalah seorang pengusaha kuliner, namun rupanya aku tertipu. Aku sudah mengorek semua informasi tentangmu, dan rupanya ayahmu hanya sebatas penjual di kedai ramen biasa.” Yeoja itu mengeluarkan beberapa dokumen dari sebuah map.

Taeyeon membulatkan matanya, itu semua kelakuan Kris!

“Maafkan aku, kau akan kucoret dari daftar siswi disini.” Ujar yeoja itu. Wajah Taeyeon makin berkeringat, “Mwo? Anda tidak bisa mengeluarkan aku begitu saja!” bantah Taeyeon. “Keluar dari sekolah ini, dan aku takkan melaporkanmu pada polisi dalam kasus penipuan.”

Kris POV

Sudah beberapa hari aku tidak melihat Taeyeon, kemana dia pergi ya? Beberapa kali kucek keadaannya di kelas, namun tidak ada yang tahu kemana Taeyeon.

Mungkin Seohyun tahu, maka aku langsung berlari ke kelas Seohyun. Untunglah sekarang dia sedang mengobrol di kelasnya. Aku melempar tatapan pada Seohyun, memberikan sinyal padanya supaya keluar kelas dan menemuiku. Syukurlah dia mengerti dan langsung keluar dari kelas. Namun ia memasang tampang marah padaku.

“Taeyeon, eoddiga?” tanyaku. Ia tidak menjawab, malah memukul-mukul pundakku. “Gara-gara kau, Taeyeon dikeluarkan dari sekolah ini paboya!” ia masih memukulku. Keluar dari sekolah? Gara-gara aku?

Aku menunjuk diriku sendiri. “Apa yang kulakukan sampai dia dikeluarkan?” tanyaku khawatir. Ia memukulku agak keras, “Tanyakan pada ibumu!” kemudian ia kembali masuk ke kelasnya tanpa memedulikanku.

Eomma… andwae.

TBC

 

6 thoughts on “Fake Relationship part 14

  1. jiyeon licik banget geregetan dah ma tu orang
    aish ini lagi ibu nya kris ampun dah menilai orang hanya dari derajat nya pliss deh jangan begitu tak baik tau ! -.-
    aigoo kris lakukan sesuatu ne demi taeyeon !!

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s