Fake Relationship part 15

Part 15: He’s insane.

Cast:

–          Kris WuYiFan

–          Kim Taeyeon

–          ByunBaekhyun

–          Park Jiyeon

Genre: Romance

Kris POV

Bel pulang baru berbunyi. Dengan segera aku mengambil tasku dan langsung berlari menuju mobilku. Hari ini Changmin tidak bekerja karena sengaja kusuruh libur. Pikiranku masih terguncang akan kepindahan Taeyeon yang tiba-tiba ini. Dengan panik aku mengebut di jalan, bahkan aku hampir menabrak mobil lain saat di persimpangan. Namun masa bodoh, yang kupikirkan hanya Taeyeon!

Entah kenapa dari kejauhan kulihat rombongan berbaju hitam saat aku menuju rumah Taeyeon. Kulihat rombongan itu mengerumuni rumah Taeyeon. Cepat-cepat aku memarkir mobilku di sisi jalan dan tanpa berpikir dua kali langsung berlari ke rumah Taeyeon. Jantungku makin berdebar saat aku melihat Ryeowook-hyung yang tampak putus asa sedang menangis di teras. Yang paling membuatku khawatir, kini ia sedang memakai jas berwarna hitam.

“Hyung, gwenchanayo? Ada apa ini?” tanyaku khawatir sambil menepuk punggungnya. Ia mengusap air matanya dan menatapku sedikit, “Appa meninggal.” Ujarnya sesegukan. Entah kenapa pikiranku langsung melompat kepada Taeyeon. Apa yang terjadi?

Kutepuk pundak Ryeowook-hyung, “Aku menyesal mendengar kepergian beliau yang begitu cepat.” Ujarku lirih, tidak berani menatapnya. Ia tersenyum dipaksakan dan langsung menepuk pundakku, “Kalau kau ingin bertemu Taeyeon, ia sedang bersama ibuku. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan dia.” Aku mengangguk dan bergegas masuk, namun Ryeowook-hyung menahan lenganku. “Appa sangat menyukaimu, menurutnya sejak kau bersama Taeyeon, kini Taeyeon menjadi sangat bahagia. Tolong jaga Taeyeon untuk Appa dan kami.” Tambahnya.

Hatiku tersentuh. Aku hanya mengangguk pelan dan memaksakan senyuman. Kemudian bergegas ke dalam dan mencari Taeyeon.

Kudapati dua orang yeoja berbaju hitam sedang menangis bersama di depan sebuah foto yang familiar, itu ayah Taeyeon. Pikiranku masih kalut, kupikir beberapa bulan yang lalu beliau tampak sehat. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

Salah satu dari yeoja itu berdiri, meninggalkan seorang yeoja yang masih menangis disana. Yeoja itu merunduk, kemudian berjalan menghampiriku. Seperti yang kuduga, itu ibu Taeyeon. Wajah yeoja itu tampak sangat terpukul.

“Oh, Kris. Kau disini. Aku, kupikir aku akan menenangkan diri dahulu. Bisakah kau jaga Taeyeon sebentar sampai dia tenang? Taeyeon terlihat sangat syok akan kejadian yang mendadak ini.” Ibu Taeyeon memaksakan senyumannya dan menepuk-nepuk lenganku.

Aku hanya mengangguk, “Ahjumma, mianhe jika aku tidak sopan tetapi apa yang terjadi pada ahjussi?” bisikku hampir tidak terdengar. Ibu Taeyeon mengusapkan tisu yang sedari tadi ia genggam ke pipinya, “Serangan jantung. Ayah Taeyeon memiliki penyakit jantung yang mirip seperti bom waktu, kapan saja bisa meledak dan inilah saatnya..” beliau menghentikan ucapannya, mengambil nafas supaya lebih luwes. “Tolong jaga Taeyeon.” Kemudian beliau langsung meninggalkanku.

Aku terpaku sejenak, kejadian ini mengingatkanku saat ibu meninggal sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih tidak mengerti apapun namun aku bisa merasakan rasa sakit yang dalam saat ibu pergi karena kecelakaan yang bahkan hingga kini tidak jelas sebabnya. Aku berjalan, kemudian berjongkok dan membelai punggung yeoja yang kutahu itu Taeyeon.

“Taeyeon, sudahlah. Jika ayahmu tahu kau sesedih ini, beliau juga pasti akan bersedih.” Hiburku. Aku tahu aku ini tidak pandai dalam menghibur, namun kurasa aku akan bisa membuatnya sedikit lebih baik. Taeyeon masih tak bisa menghentikan tangisnya. Air mata mengalir dengan deras, “Appa..” bisiknya lirih.

Aku menoleh padanya. “Hm?” Taeyeon kembali merunduk. “Dulu, saat kecil aku masih ingat betapa besar pengorbanan Appa. Saat itu usiaku baru dua tahun, kamar sangat dingin. Appa dan eomma tidak punya uang untuk beli batu bara atau sesuatu yang lain. Hingga Appa akhirnya melepaskan bajunya sendiri dan menggunakannya sebagai selimutku.” Taeyeon tersenyum dipaksakan.

Setetes air mata kembali jatuh.

“Kupikir…” Taeyeon menarik napas. “Setelah aku pulang dari bekerja, aku akan membelikannya makanan favoritnya. Dan aku akan pulang, kemudian melihat Appa sedang tersenyum di dapur sambil memotong daun seledri. Mungkin pemandangan itu tidak akan ada lagi.” Dan ia kembali menangis tersedu-sedu.

Aku tak tahu apa yang harusnya kulakukan, namun aku lebih memilih untuk merengkuhnya ke dalam dekapanku erat-erat. “Gwenchana, semuanya akan baik-baik saja.” Taeyeon menggelengkan kepalanya di dalam dekapanku. “Kris, aku merindukan appa.” Aku mengangguk, “Kita semua merindukannya.” Ujarku sambil membelai kepalanya.

Taeyeon yang kuat, Taeyeon yang bisa berteriak lebih keras dari speaker sekolah, Taeyeon yang tomboy yang kukenal. Kini ia hanya bisa menangis dalam dekapanku. Kubelai rambutnya, kemudian kupandangi wajahnya. Ia jatuh tertidur karena kelelahan menangis. Kubelai bibirnya perlahan, kemudian aku mengecup dahinya.

“Saranghae,” bisikku pelan.

****

Taeyeon POV

Mataku masih panas karena terlalu banyak menangis. Kubuka mataku perlahan, aku masih ingat cara Appa membangunkanku saat aku sedang malas bangun. Entah kenapa rasanya kepalaku pusing sekali. Kusingkirkan selimut yang menutupi tubuhku dan berjalan menuju cermin. Aku masih mengenakan jas kematian kemarin. Kusisir pelan rambutku dengan jemariku. Samar-samar aku mengingat kalau ada orang yang kemarin membisikkan kata saranghae padaku, namun aku benar-benar tidak ingat siapa orang itu.

Apa mungkin Kris? Andwe. Yang kuingat adalah aku jatuh tertidur di pelukannya, dan mungkin saja ia langsung memanggil Ryeowook-oppa untuk mengantarku ke kamar. Jadi tidak mungkin kalau itu Kris. Kupijat dahiku perlahan, entah kenapa rasanya benar-benar malas untuk bangun, tapi hari ini aku harus bekerja.

Baru saja aku selesai mandi, entah kenapa ponselku langsung bergetar saat itu. Pesan dari Baekhyun yang memintaku untuk menemuinya sekarang juga. Aku terdiam dan mempertimbangkannya, sambil kulirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh seperempat. Sedangkan hari ini aku sedang mendapat shift siang. Mungkin tidak masalah.

Kupaksakan wajah yang berbunga-bunga saat aku berjalan ke kafe yang menjadi tempat pertemuanku bersama Baekhyun nanti. Kulirik jam tanganku sambil berjalan masuk, masih jam delapan. Dan tampaknya Baekhyun sedang menunggu di salah satu meja kafe.

Aku menarik kursiku dan duduk di hadapan Baekhyun. Kulihat ia tampak gelisah sekali, terlihat dari kelakuannya yang berkali-kali menelan ludah tanpa sebab. Dia nervous?

“Baekhyun, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku. Tanpa basa-basi ia langsung meraih tangan kananku dan memegangnya erat dengan kedua tangannya. Tangannya berkeringat dingin. “Noona aku, maafkan aku jika aku terlalu berterus terang..” ia merunduk dan menggenggam tanganku lebih erat. “…Najoahenoona. Aku suka padamu. Jadilah pacarku.” Ujarnya gerogi.

Aku membulatkan mataku, “Mwo?” tanyaku tidak percaya. “Sebenarnya aku sudah tahu jika hubungan Krystal dan aku takkan berjalan lama. Namun semenjak noona datang mengisi hariku setelah kepergian Krystal, aku tidak bisa berhenti memikirkan noona.” Ia menghentikan ucapannya dan mengambil napas, “Noona kau benar-benar membuatku gila. Kupikir aku tidak akan bisa tanpamu. Untuk beberapa alasan yang tidak bisa diekspresikan dengan kalimat. Kau cantik, kau menawan dengan caramu sendiri. Dan kuharap noona akan mempertimbangkannya.” Baekhyun menghentikan kalimatnya dan menatapku penuh harapan.

Dan pikiranku semakin kalut. Rasanya semakin kacau ketika bayangan Kris tiba-tiba mengacaukan seluruh sistem di otakku. Ya, aku ditembak oleh seorang pangeran sekolah dan entah kenapa di pikiranku hanya ada Kris yang mengacaukan segalanya.

“MaafBaekhyun, aku tidak bisa. Sebenarnya sejak dulu aku sudah menunggumu, tapi kau membuatku menunggu terlalu lama. Semenjak ada Krystal, kupikir sudah tidak akan ada kesempatan lain untukku. MianheBaekhyun, ada orang lain di hatiku.” Aku menjawab dengan seluruh kata hatiku. Kau senang Kris? Kau membuatku menolak seorang pangeran sekolah demi dirimu!

Baekhyun terlihat kecewa sesaat, namun ia tersenyum sambil menatapku lembut. “Kris-hyung ya?” tanyanya. Pipiku memerah, bagaimana dia bisa membaca pikiranku?!

Aku menggelengkan kepalaku, namun ia malah terkekeh. “Noona itu tidak bisa berbohong.” Kemudian ia menepuk pundakku, “Semoga berhasil. Aku tahu Kris-hyung akan menolak Jiyeon-noona mentah-mentah.” Ia mengedipkan matanya padaku. Aku merunduk, “Mianhe sudah merusak hubunganmu dengan Kris.” Sesalku. Namun ia menggeleng, “Gwenchana. Aku dan Kris-hyung sudah berbaikan kok.” Ujarnya.

Kami terdiam sesaat dan terpaku, namun Baekhyun menyuruhku untuk menghabiskan minumanku. Sambil meminum jusku, tiba-tiba aku berpikir tentang Kris. Ada apa dengan Kris ya?

****

“Ya, silahkan kembali lain kali. Kamsahamnida.” Aku membungkuk dan melambaikan tanganku pada pelanggan terakhir yang meninggalkan kafe. Seusai membersihkan meja, aku pergi keluar untuk membuang sampah. Namun saat membuang sampah, aku melihat seseorang sedang duduk sendirian di bangku tamandi seberang jalan kafe. Aku berjalan lebih dekat menghampirinya, ia tampak familiar. Itu Kris?

Aku menatap namja yang sedang menoleh menghadap jalanan itu. “Kris?” panggilku pelan. Ia menoleh menatapku, pandangan matanya nampak sayu. Aku jadi semakin khawatir padanya. “Taeyeon,” panggilnya lirih. Itu bukan Kris yang kukenal, Kris tidak pernah memanggil namaku secara langsung. “Kau bukan Kris yang kukenal.” Ujarku.

Ia tersenyum kecil dan kembali menatap ke jalanan. “Jika itu maumu, aku tidak peduli.” Ujarnya dingin. Aku duduk di sampingnya tanpa berani menatapnya. Kami duduk di kursi yang sama namun masih ada jarak diantara kami. “Sudah beberapa lama kita tidak bicara.” Ujarku pelan memecah keheningan diantara kami berdua. Ia tidak menjawab, hanya mengulum senyum. “Kau, apa kabarmu?” tanyaku pelan. Seorang Kim Taeyeon bertanya tentang kabar seorang Kris Wu, sebuah keajaiban.

“Aku, entahlah. Kau sendiri?” tanyanya balik. “Aku baik-baik saja.” Ujarku lirih. Ia menoleh padaku dengan tatapan dinginnya, bahkan lebih dingin dari biasannya. “Setelah menangis sebanyak itu hingga jatuh tertidur?”

Mataku melebar. “Apa.. maksudmu.”

Ia menggeleng dan kembali menatap lurus. “Tidak ada. Tidak ada yang perlu dipikirkan.” Ujarnya pendek. “Kris, kau berubah.” Ujarku tidak sengaja, tepatnya keceplosan. “Aku tetap Kris, aku masih Kris. Apa yang berubah dariku?” tanyanya dengan dingin. “Molla, kau jadi sedikit lebih… dingin.” Ujarku pelan. “Bukankah setiap hari aku memang dingin?”

“Tapi tidak sedingin ini! Kupikir… kupikir kau seorang yang hangat. Aku tahu, sebenarnya kau ini orang yang baik dan hangat. Namun ternyata aku salah.” Ujarku lebih keras. Ia masih tidak menoleh. “Sebaiknya jangan menyimpulkan kepribadian seseorang sebelum kau benar-benar mengenalnya.”

Ini tidak benar, ini sama sekali tidak benar. Aku mengepalkan tanganku dan langsung berdiri menatap Kris. Tangan kananku mendorong dadanya keras-keras. “Heyapa-apaan kau ini?” protesnya. “Apa? Kau mau melaporkanku ke penjara karena aku mendorong seorang tuan muda sepertimu? Teruslah berakting menjadi dingin dan mengabaikanku. Aku senang sekali karena kau sudah menaruh harapan palsu padaku dan membuangku begitu kau bosan. Benar kata orang-orang rupanya. Kau sama saja dengan namja lainnya.” Ujarku dengan berlinang air mata.

Ia berdiri, semakin menunjukkan betapa tingginya ia dibanding aku. Namun aku tak peduli, aku masih termakan emosi. “Siapa yang mengatakan kalau aku sama dengan namja lain heh? Dan kau, asal kau tahu kau sudah membuatku gila. Semenjak kau pindah dari sekolah aku terus memikirkan dan mengkhawatirkan dirimu tanpa alasan dan itu sangat membuatku gila. Berhenti menghancurkan hidupku!” teriaknya di hadapanku. “Begitukah? Maaf sudah menghancurkan hidupmu, aku tidak seharusnya datang mengganggu kedamaian hidupmu. Harusnya aku sudah pergi sejak dulu!” ujarku sambil melangkah menjauh darinya. “Memang! Kau harusnya pergi sejak dulu! Kenapa baru sekarang kau pergi?” teriak Kris dari belakangku.

Aku marah, aku muak, semuanya bercampur aduk di kepalaku. Semuanya rasanya menyakitkan. Membuatku sesak dan susah bernapas karena aku sibuk menahan air mataku yang terlanjur deras. Aku mengusap air mataku berkali-kali sambil berjalan meninggalkan taman.

Jiyeon POV

Ah, itu dia Taeyeon di taman. Aku mengelus setir mobilku ini sambil mengawasi Taeyeon dari bibir jalan, agak lebih jauh dari taman. Seperti yang kuduga, ia akan menghampiri Kris oppa di taman. Aku tersenyum simpul, harusnya Kris oppa tidak memberitahuku kemana ia akan pergi tadi. Rencanaku akan segera berhasil.

Flashback

Aku masih merapikan ujung gaunku yang sangat mahal ini. Entah kenapa, ujung renda manis ini masih tampak kusut di mataku. Aku tidak bisa, aku harus tetap terlihat sempurna di depan ibu Kris nanti di acara pertunangan kami. Namun sudah tidak ada waktu, aku harus cepat-cepat bersiap.

Rasanya mobil limusin yang kunaiki ini berjalan lambat sekali, namun jam tanganku berjalan sangat cepat. Aku semakin resah, pertunanganku akan dimulai setengah jam lagi.

“Ahjussi tolong lebih cepat, kau tidak tahu ya aku sedang buru-buru?” perintahku pada supirku. Supirku mengangguk dan sedikit lebih mengebut. Aku mengambil cermin kecil favoritku dan kembali bercermin. Aku tidak boleh terlalu resah, jika aku berkeringat, riasanku akan memudar dan aku tidak mau itu terjadi. Aku menarik napas pelan, aku harus siap.

Rombongan kami sampai di rumah Kris oppa. Pelayan-pelayan sedang berjajar rapi di sisi pintu masuk. Aku tersenyum manis dan melangkah dengan percaya diri memasuki rumah yang sudah beberapa kali kudatangi ini. Namun ini adalah hari pertunanganku dengan Kris oppa, jadi tidak ada alasan untuk tidak nervous.

Ibu Kris langsung memelukku erat, “Jiyeon.” Beliau tertawa kecil. Aku tersenyum, “Ahjumni. Apa kabar?” aku membungkuk. Beliau lalu menggandeng tanganku untuk duduk di sofa, disusul orang tuaku.

Kris oppa turun dari tangga, entah kenapa ia tampan sekali dengan jas hitamnya. Buru-buru kualihkan pandanganku untuk menyembunyikan pipiku yang sedang blushing. Aku tersenyum kecil, sebentar lagi dia akan jadi milikku.

“Kris, turun dan sapalah calon mertuamu.” Kris oppa menatap semua yang ada di bawah, namun ia langsung mengabaikan kami dan langsung berjalan keluar rumah. “Kris kau mau kemana? Jangan permalukan eomma!” ujar Ibu Kris yang buru-buru menyusul Kris oppa. “Eomma?” ia berbalik dan tersenyum sinis. “Kau bukan ibuku. Ibuku hanya satu. Dan kau tidak berhak mengatur perjodohan ini, eomma. Aku menyukai gadis lain. Aku akan pergi ke taman dan menenangkan diri.” Kris oppa langsung berjalan entah kemana.

Aku mengepalkan tanganku dan meremas bahan gaunku. Aku menatap ibu Kris yang tampak sedang naik darah dan sangat malu. “Ahjumni, aku, aku akan menyusul Kris oppa. Apa boleh?” tanyaku sambil memegang kedua tangan Ibu Kris erat-erat. Yeoja tua itu hanya mengangguk pelan. Dengan cepat aku langsung berlari menyusul Kris oppa.

Sambil menyetir, aku mencari-cari kontak yang paling ingin kucari saat ini. Saat menemukan kontak dengan nama Lee Joon, segera kutekan tombol panggil. Beberapa saat kemudian panggilanku tersambung.

“Yeoboseyo? HeyJoon-ssi. Aku akan datang pada anak buahmu untuk menyerahkan uang sisanya. Tapi, jika kau ingin tambahan, aku ingin kau melakukan sesuatu.” Ujarku sambil tersenyum sinis.

Normal POV

Kris masih merenungi apa yang baru saja ia lakukan, berteriak kepada Taeyeon bukanlah kemauannya. Jujur saja, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya tadi. Ia melihat ke sekeliling, masih ada kesempatan untuk meminta maaf. Cepat-cepat ia bangkit dari kursi dan berlari menyusul Taeyeon. “Shireo!” umpatnya sambil berlari. Namun sesuatu yang lebih berbahaya menangkap perhatiannya saat dia berada di pintu keluar taman.

Taeyeon masih berjalan cepat meninggalkan taman itu. Namun sayang, ia malah berjalan tanpa memperhatikan sekeliling jalan saat akan menyeberang. Sebuah mobil sedang melaju kepadanya. Terlambat, Taeyeon baru menyadarinya saat mobil itu sudah dekat. Taeyeon tidak bisa bergerak, ia terlalu takut untuk bergerak. Ia hanya terdiam saat mobil itu hampir menabraknya. Namun sesuatu mendorongnya jauh-jauh saat mobil itu hampir mengenainya. Sesuatu yang mendorongnya hingga terguling ke bibir jalan.

Ia masih terlalu pusing untuk menyadari apa yang terjadi, hingga tiba-tiba bayangan orang yang mendorongnya dan menyelamatkannya itu muncul di kepalanya. Ia tidak bisa menerka apa yang terjadi.

TBC

 

8 thoughts on “Fake Relationship part 15

  1. Oh, Dear ! part ini bener2 berkecamuk rasanya
    sedih, marah, kesal, cinta bercampur jadi satu
    dari awal baca kebawa emosi banget gitu
    waaaaaahhhh kris say SARANGHAE
    omg kris udah bener2 jatuh hati ma Taeyeon.

  2. taeng eon harus kuat, jgn sedih kn masih ada kris oppa. Baek oppa baik sekali. Jiyeon engkau terlalu jahat, karakter jiyeon disini ada miripny dgn wajahnya thor.

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s