Fake Relationship part 16 (the end)

Part 16 (The end): Well done.

Cast:

–          Kris WuYiFan

–          Kim Taeyeon

–          ByunBaekhyun

–          Park Jiyeon

Genre: Romance

Enjoy!

Taeyeon POV

Kepalaku sakit sekali saat menghantam badan jalan tadi. Kupijit pelan kepalaku dan aku baru menyadari kalau tadi aku nyaris ditabrak oleh mobil. Mataku membulat — Orang yang mendorongku tadi…

Jantungku melompat: orang baik hati yang menolongku tadi! Dengan tertatih aku berlari menuju kerumunan yang kuduga pasti orang yang mendorongku tadi. Mobil yang tadinya hendak menabrakku sudah tidak ada, tabrak lari yang kejam. Tubuhku yang kecil memudahkanku untuk menyelinap diantara kerumunan itu. Betapa terkejutnya aku ketika mendapati kalau sosok itu adalah…

Aku menutupi bibirku dengan jemariku. Kris kini sedang terbaring lemah di ranjang ambulans. Sirine ambulans yang berdengung di telingaku makin membuatku khawatir. Aku menggenggam tangan kanan Kris dengan kedua tanganku. Air mataku kembali jatuh saat menatap wajahnya yang pucat. Seakan tak bernyawa. Namun aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat dan mengecup tangan kanan Kris. “Kau akan baik-baik saja.” Ujarku sambil membelai Kris lembut.

Aku masih menunggu di ruang tunggu operasi. Jantungku makin berdebar menunggu Kris. Ibu Kris dan Baekhyun tampak berjalan dengan tergesa-gesa menghampiriku. “Kris-hyung, eoddiga?” tanya Baekhyun. Aku merunduk, “Di ruang operasi.” Jawabku gugup. Air mataku mengalir lagi, namun aku langsung menghapus air mataku. “Omo, apa yang terjadi.” Ibu Kris langsung menjatuhkan dirinya di kursi tunggu, tampak sekali beliau sangat khawatir. “Meskipun dia putra tiriku, aku tidak bisa melihatnya seperti ini.” Beliau langsung menangis tersedu.

Suara langkah kaki membuatku mendongak, itu Jiyeon yang tampak sedang tersenyum sinis. Oh great, rencana apalagi yang ingin ia buat?

Aku berusaha tidak menghiraukannya, namun ia menggenggam tangan kananku dan memaksaku untuk mengikutinya menjauhi ruang tunggu. “Kau, gara-gara kau Kris oppa jadi seperti ini.” Ujarnya. Mataku membulat, “Apa maksudmu?” tanyaku. Ia terkekeh, “Krisoppa menyelamatkan dirimu dari mobil itu, bukan? Jangan menutupinya, aku tahu segalanya.” ia menghentikan kalimatnya dan berbisik di telingaku. “Jauhi Kris oppa, itu baik untukmu.”

Bisikan Jiyeon membuatku agak merinding, mungkin karena nada suaranya yang mirip hantu. Namun aku tidak peduli, aku langsung mendorongnya. “Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Sayang sekali Jiyeon, kau gagal.” Aku menjauhinya dan keluar dari rumah sakit. Aku benar-benar tidak ingin berurusan lebih dalam dengan Jiyeon. Sudah cukup masalah yang kubuat kepada Kris. Aku tidak ingin menyusahkannya lagi.

****

Ini sudah seminggu, beberapa hari ini aku rajin mengunjungi Kris saat ia sedang tidak ada yang mengunjungi. Namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau ia akan sadar. Namun takdir berkata lain, ia sudah koma selama berhari-hari dan dia masih tidak bergerak di atas ranjang rumah sakit yang super mewah ini.

Aku mengganti bunga di vas yang sudah agak sedikit layu. Aku menggantinya dengan bunga lili salju yang mungkin ia akan suka dan terbangun dari tidurnya. Ah, aku bicara omong kosong lagi.

Aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kris. Kugenggam tangan kanannya erat, dingin. Kurapatkan selimut yang membalut tubuhnya. Air mataku kembali mengalir, aku sangat merindukan namja yang selalu mengejekku sejak kelas satu SMA ini.

“Kris, bogoshipeo.” Ujarku lirih. Aku tidak percaya aku benar-benar mengatakan ini. Aku kembali menatap wajah Kris yang masih pucat. Air mataku kembali jatuh. Namun sekuat apapun, aku tidak bisa menahan tangisku. Aku menggenggam erat-erat tangan kiri Kris sambil menangis.

“Aku merindukanmu, jeongmal. Aku rindu semuanya darimu. Caramu mengejekku, caramu menindasku, caramu menyeretku semaumu. Dan juga… caramu memanggilku dangshin. Aku, aku tahu awalnya itu sangat menyebalkan buatku..” aku mengusap air mataku yang sudah terlanjur deras.

“…Tapi aku terbiasa dengan keberadaanmu. Aku menyukaimu Kris. Aku sangat menyukaimu, aku suka semuanya darimu. Jadi bangunlah, jebal Kris.”

Entah kenapa alat detektor jantung yang ada di samping ranjang Kris terlihat makin lemah, gelombang jantung Kris terlihat makin menurun. Dengan segera aku bangkit dan mencari siapa saja yang bisa menolongku di luar kamar Kris. “Perawat!” teriakku putus asa. Untunglah ada seorang perawat yang langsung mendatangiku. Ia memeriksa Kris dan langsung keluar mencari bantuan. Tak perlu waktu lama, seorang dokter langsung datang.

Dokter itu terlihat terkejut memeriksa detektor jantung Kris yang makin lemah. Aku tak bisa menahan tangisku sambil menunggu Kris dari luar kamar. Dokter mencoba alat pacu jantung beberapa kali, namun masih tidak ada reaksi. Hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan dengan putus asa, dan para perawat tampak sedang melepas alat pembantu kehidupan yang menempel di tubuh Kris.

“Dokter, bagaimana?” tanyaku putus asa. Dokter itu menggeleng lemah dan langsung meninggalkanku.

Tanpa pikir panjang aku berlari menuju kamar Kris. Dan itu Kris, Kris yang sudah tidak bisa bergerak, Kris yang sudah tidak akan bisa bergerak lagi. Kenangan-kenangan saat ia mengejekku, menindasku, semuanya muncul dan berputar seperti film lama di otakku. Aku menggenggam tangannya, menangis tersedu-sedu di sana.

“Kris kau jahat sekali. Kau pernah mengatakan padaku kalau kau tidak akan meninggalkanku. Kau jahat sekali!” aku memukul-mukul ranjang Kris dengan putus asa.

Beberapa saat kemudian rombongan Ibu Kris datang dengan tergesa-gesa, tampak ada Baekhyun yang menyusul di belakang. “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” tanyanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku terdiam, aku tidak bisa menjawab apapun karena aku sendiri juga sangat terpukul. Baekhyun lalu menahan Ibu Kris dan menenangkan beliau ke luar ruangan. Aku kembali menggenggam tangan kanan Kris yang dingin.

“Kris, na joaheyo.  Aku sangat menyukaimu, bangunlah.” Aku kembali menangis memegang tangannya yang dingin.

“Jinjjayo?”

Aku tersadar dari tangisanku. Kuangkat kepalaku dan kulihat dengan mata kepalaku sendiri kalau jemari Kris bergerak-gerak. Dengan segera suster yang melihat kejadian ini langsung menghubungi dokter yang belum jauh dan kembali memasang jarum infus. Kris membuka matanya, kemudian menatapku sambil tersenyum nakal. Aku mengusap air mataku dan menatapnya tidak percaya. Apa-apaan ini? Aku melihat sendiri kalau detak jantungnya sudah tidak ada.

Kris tersenyum nakal padaku, “Apa yang kudengar tadi ilusi?” ia bertanya padaku dengan lirih. “Sudah jangan bicara! Kupikir kau tadi itu harusnya mati!” ujarku dengan pipi yang memerah. Kalau aku bisa melihat diriku sendiri, aku akan melihat diriku sedang berkeringat dingin dengan muka semerah tomat. “Kau mau aku mati? Ya sudah aku akan mati lagi.” Kris pura-pura memejamkan matanya. Namun karena aku terbawa emosi, refleks aku mencegahnya. “Jangan!” cegahku.

Ia tersenyum penuh kemenangan.

Entah kenapa kurasakan Jiyeon tiba-tiba memasuki ruangan ini. Dasar pengganggu.

“Oppa! Syukurlah kau tidak apa-apa. Jangan sampai gadis tidak sopan ini menyakitimu.” Ujar Jiyeon sambil memelototiku. “Tutup mulutmu Jiyeon. Aku tahu segalanya.” Ujar Kris. Kulihat mata Jiyeon membulat. “A-apa maksudmu oppa?” tanyanya sok ramah.

Kris mencoba bangun dengan susah payah, agak sedikit kubantu. “Saat kecelakaan itu, aku mengenali pengendara mobil itu.” Ia kembali tersenyum sinis. “Orang itu adalah, orang yang sama dengan orang yang hendak mencelakai Taeyeon saat kita di pulau Jeju.”

Keringat Jiyeon mengalir di pelipisnya. “Yang intinya, ada hubungannya denganmu.” Kris melipat tangannya, “PergilahJiyeon. Aku tidak akan melaporkanmu kepada polisi, tapi kusarankan padamu jangan pernah menemuiku lagi.” Ancam Kris dengan nada yang cukup seram.

Kulihat Jiyeon langsung meninggalkan kamar Kris dengan tergopoh-gopoh. Aku menatapnya, kemudian tersenyum simpul. “Kris, kau benar-benar keren saat mengancamnya tadi.” Pujiku sambil menunjukkan jempolku padanya.

****

Aku dan Kris sedang duduk berdua di bangku taman. Ini sudah beberapa hari semenjak Kris bangun dari koma. Dan kalian boleh saja memanggilku sudah gila, namun sekarang aku sedang duduk berdua dengan mantan musuh bebuyutanku sambil bergandengan tangan. Saat tangan kirinya memegang tiang infus, tangan kanannya menggenggam erat tangan kiriku, seperti enggan melepasku untuk sebentar saja.

Angin membelai helai-helai rambutku yang sengaja kugerai, kemudian aku menoleh menatap Kris yang sedang asyik menikmati pemandangan. “Kris.” Panggilku pelan. Ia menoleh padaku sambil tersenyum. “Ne?” aku merunduk. “Bagaimana, pertunanganmu dengan Jiyeon?” tanyaku iseng. Ia terkekeh. “Oh, Jiyeon. Kudengar ia pindah ke Jerman tanpa alasan. Kupikir ia mencoba lari dariku. Dan eomma juga sudah mendengar segalanya tentang rencana Jiyeondariku, jadi kupastikan eomma takkan menghalangi hubungan kita lagi.” Aku tersenyum simpul mendengarnya.“Ah, geuraeyo? Baguslah.” Ujarku singkat.

“Hei, dangshin.” Kris gantian memanggilku. Aku menoleh padanya, ia masih memandang pemandangan taman.“Kupikir, aku akan mati saat itu. Jujur saja, aku sempat kehilangan semangat hidupku.” Akunya.

Kutundukkan kepalaku, rasanya menyakitkan kalau aku mengingat disaat Kris hampir kehilangan nyawanya demi menyelamatkanku. Aku melepas genggaman tanganku pada Kris, kemudian agak sedikit membenarkan posisinya, lebih tepatnya agak mengeratkannya. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan dirinya.

“Tapi tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku, dan kuikuti saja suara itu.” Kris masih tersenyum, “Dan kusadari kalau itu dirimu.” Ia lalu menatapku lekat-lekat. Bisa kulihat kalau ia tersenyum tulus. Aku membisu, karena saat ini aku sedang sekuat tenaga menahan air mataku. “Jika kau meninggalkanku lagi kau akan mati.” Ancamku dengan mata yang berkaca-kaca. Namun kupikir ia tak menyadarinya dan hanya terkekeh dengan ancamanku.

Ia kembali menatap taman. “Kalauorang-orang melihat kita disini, mereka pasti menyangka kita berdua sudah gila.” Aku kembali terkekeh, entah kenapa kenangan-kenangan saat Kris menindasku dulu menjadi lucu untuk beberapa alasan. “Aku tidak pernah menyangka kalau kita akan ada disini sendirian sambil bergandengan tangan.” Tambahku sambil menatap pemandangan.

“Najoahe.” Ucap kami bersamaan tanpa sengaja. Refleks kami langsung menoleh satu sama lain karena salting. Namun kami langsung tertawa bersama, “Pabo.” Ujarku di sela-sela tawaku. “Dangshin!” balas Kris tidak terima. “Aku tahu kau menyukaiku.” Ledek Kris. Wajahku memerah, “Mwo? Mimpi saja kau. Kau yang main mencuri ciuman pertamaku!” ujarku keceplosan. Refleks kututupi mulutku yang asal bocor ini.

Kris membulatkan matanya dan langsung menatapku kaget sambil menunjuk dirinya sendiri, “Naega?” tanyanya dengan polos. “Ne! Siapa lagi.” Ujarku sambil mengerucutkan bibirku, kemudian menunduk karena malu. Kris masih tidak percaya akan pernyataanku. “A-aku? Andwae! Pasti kau duluan! Apa yang kau lakukan dengan kehormatanku?!” ujarnya sambil langsung berdiri dari bangku taman dan menunjukiku. “Aku? Harusnya aku yang bertanya kenapa kau asal menciumku saja saat itu!” ujarku tidak terima.

Dan kami akhirnya saling berdebat dan bertengkar yang tidak ada gunanya ini. Namun jujur saja aku menikmati saat-saat ini. Mungkin saja masih ada takdir yang akan menentukan hubungan kami nanti. Namun aku tak ingin mempermasalahkan masa depan, yang ingin kulakukan saat ini adalah, menikmati setiap momen yang ada bersama Kris. Meskipun yang lebih banyak ada mungkin kenangan saat ia menindasku saja. Tapi yang kutahu adalah, aku menyukai Kris dan aku tidak mau kehilangan ia lagi.

Epilog

Normal POV

Baekhyun hanya tersenyum simpul saat Kris dan Taeyeon saling berkejar-kejaran di taman. Lega sekali rasanya melihat mereka bersatu, meski ia harus berkorban karena ia sangat menyukai Taeyeon pada awalnya. Ia menyandarkan dirinya di pohon dekat taman tempat ia memata-matai Kris dan Taeyeon tadi. Baekhyun menarik napasnya yang berat, bukti kalau ia benar-benar sakit hati, namun napas lelah itu bukti karena ia sangat lega.

Ia hendak melangkahkan kakinya ke kiri dan pulang, namun tiba-tiba…

Brakk!!

“Appo,” seorang yeoja memegangi kepalanya. Cepat-cepat Baekhyun menolong yeoja malang yang ia tabrak tadi itu. “Mianhae…” Baekhyun menghentikan kalimatnya saat melihat yeoja itu sangat familiar dengannya. “…Seohyunnoona? Apa yang kau lakukan disini?”

Seohyun menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans-nya yang agak berdebu karena jatuh tadi. “Baru saja menjenguk sepupuku dan sekalian ingin menjenguk Kris, kau sendiri?” tanya Seohyun sambil tersenyum. “MenjengukKris-hyung, sekalian memastikan kalau pasangan bodoh itu bersatu.” Ia terkekeh sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Seohyun melihat ke samping, ia mendapati namja tinggi dan seorang yeoja pendek yang sedang berkejar-kejaran di taman rumah sakit. Ia tersenyum karena mengerti dengan apa yang dimaksud Baekhyun dengan pasangan bodoh.

Baekhyun menatap Seohyun dengan aneh, “Luhan-hyung, eoddiga? Bukankah kemanapunnoona pergi, ia selalu disampingmunoona?” tanya Baekhyun heran. Seohyun menggeleng lemah, entah kenapa matanya terlihat berkaca-kaca. “Baekhyun bisakah kita tidak bicara disini?”

****

Di mobil Baekhyun

“JadiLuhan-hyung pindah ke Cina dan dijodohkan. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya.” Ujar Baekhyun sambil mengambil sehelai tisu terakhir di kotak tisu mobilnya. Entah berapa lembar tisu yang dihabiskan Seohyun. Benak Seohyun berkata kalau ia harus mengganti kebaikan tisu-tisu Baekhyun nanti. “Nae, seperti itulah. Aku tidak tahu kalau orang tua kami memiliki hubungan yang tidak akrab maksudku, orangtuaku berkata kalau Luhan tidak cukup kaya.” Dan tangis Seohyun kembali pecah.

Baekhyun menepuk-nepuk pundak Seohyun, “Noona.” Ujarnya pelan. Seohyun menoleh padanya, dan entah kenapa rasanya Baekhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya. ‘Luhan-hyung pasti bodoh kalau menolak gadis secantik Seohyun-noona.’ Batin Baekhyun. Ia tersenyum manis, “Noona. Kita berada di posisi yang sama kali ini, sama-sama patah hati.” Ujar Baekhyun sambil tersenyum.

Seohyun berhenti menghapus air matanya yang terlanjur deras. “Apa maksudmu?”

“Bisakah kita memperdekat hubungan kita, noona?” Baekhyun mendekat ke kursi Seohyun yang ada di sebelahnya.

Seohyun tidak menjawab, hanya tersenyum malu.

 

The End

 

 

19 thoughts on “Fake Relationship part 16 (the end)

  1. zzzzzzz aku kurang suka kalo baekhyun dipairing-in sama orang lain kecuali taeyeon unnie –a entahlah gabisa ngebayangin. udahlah baekhyun sama aku aja /plak nice ff thor ‘-‘)b aku suka

  2. Gak da kiss scene antara kris and Taeyeon nya Kah ??
    Wah The End T__T serasa kagak rela saya ff ini end
    Oh Dear, buat lagi donk ff KrisTae nya Jebalayo neomu Joahe ff karyamu ini >< ! Mau lagi ff kristae nya !!

  3. author.. thanks ya FF nya bagus….. makasih jg udah ditamatin… jadi ga berasa digantung… SUKAAAA semuaaaanyaa jalan cerita,prolog epilog sukaasukaaa ahh sukaaa bagus bgt!!!! ;’D

  4. Thor, aku nangis TT.TT sumpah pas suasana di rumah sakit itu bner2 nyentuh T^T aku seneng semua berakhir bahagia dan good job buat author yg udah nulis FF sekeren ini (y) aku suka banget thor >< keep writing dan buat FF ber-cast Kris lagi ya~

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s