Because You Were My Wings

Untitled-1_副本

Title: Because You Were My Wings

Author: Seonhee

Length: Twoshoot

Rating: T

Genre: Romance, Angst.

Main Cast:

–          Seo Joo Hyun

–          Kim Joon Myun

Other Cast:

–          Xi Lu Han

–          Im Yoon Ah

Summary:

Joohyun tak yakin apa yang membuatnya tetap bertahan dan ia tak yakin mengapa, yang ia tahu adalah karena ia harus. Dan begitulah caranya hidup selama beberapa tahun hingga akhirnya orang itu datang, membuatnya menyadari segalanya.

“Semua orang dilahirkan dengan sayap, dan sayap diciptakan untuk terbang.”

Note: Karakter bukan milik saya. Kesamaan tempat, latar, waktu dan kejadian hanyalah kebetulan semata.

Enjoy!

.

.

****

“Itu benar-benar ide yang buruk!” Joohyun kembali mengingatkan dirinya lagi dan lagi. Mengapa, Oh Tuhan mengapa, ia harus bertemu dengan sepupunya saat ia sendiri sudah tahu kebenarannya? Kenapa ia harus melihat kalung yang berkilau itu menempel di leher sepupunya, kalung yang sama yang ia temukan di dompet kekasihnya?

Meskipun ia sudah menaruh perasaan curiga terhadap hubungannya semenjak ia memperkenalkan Luhan kepada sepupunya, Joohyun selalu memilih untuk menyangkal segalanya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia duduk di sebuah bangku yang dekat dengan sebuah rumah sakit tempat sepupunya, Yoona, bekerja. Ia menarik napas lelah, mencoba untuk menahan air matanya.

Ia tak mengerti, kenapa harus Yoona? Kenapa harus sepupunya yang harus memiliki hubungan khusus dengan kekasihnya? Yoona itu cantik, sukses dan cerdas. Yoona bisa mendapatkan laki-laki mana saja bertekuk lutut untuknya, jadi kenapa harus Luhan? Si gadis menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan menahan dirinya dari kembali pada Yoona dan menamparnya, mengingatkannya kalau di sini bukanlah tempat yang tepat.

Tidak. Tidak. Joohyun bisa melakukan yang lebih baik. Ibunya takkan pernah mengizinkannya jika ia harus bertingkah seperti itu. Lagipula, ia ingin bertahan dengan rencananya semula – menunggu Luhan dan Yoona untuk mengakui hubungan kotor mereka dan meminta maaf padanya.

Joohyun tahu itu, dibanding sepupunya, dia memang sudah kalah besar – Yoona itu anggun dan sukses, dengan mata yang indah dan senyum mempesona, siap untuk meraih pengalaman barunya sementara Joohyun hanyalah gadis biasa, terlalu memikirkan setiap hal, lebih memilih untuk tinggal di rumah dan lebih suka membaca buku ketimbang mendaki gunung atau kegiatan menguras adrenalin lainnya. Ia berharap kalau ia takkan pernah sampai ke titik di mana Luhan harus memilih salah satu di antara mereka – Ia hanya berharap Luhan akan menyadari kesalahannya dan kembali padanya.

“Hei.”

Ia terbangun dari rantaian dugaannya, saat seseorang sedang berdiri tepat di sampingnya, mata orang itu mempelajari sosok Joohyun. Dengan tatapan risih, Joohyun menatap orang itu siap untuk mengomel pada orang itu di saat ia sendiri membeku seperti patung. Suara orang itu membangunkannya, pria yang ada di sampingnya memiliki senyum yang indah dan mata hitam yang memikat, dengan rambut hitam yang rapi ditiup angin sepoi-sepoi.

Orang itu sangat mempesona, bagaikan malaikat, membuat Joohyun sejenak berhenti bernapas. Saat orang itu terkekeh, membuat bibir Joohyun sedikit bergetar – Jika orang itu saja sudah mempesona jelas suaranya pasti lebih memikat – Joohyun menyadari betapa menyedihkan ia terlihat saat ini. Dengan riasan yang tercoreng di area matanya dengan sisa air mata. Bukan karena menangis, tapi karena kemarahan.

Joohyun berdehem, ia berdiri dari bangku itu, ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu, saat tiba-tiba gerakannya terhenti. Tangan si pria menggaet pergelangan tangan Joohyun. Sambil mengeluh, Joohyun berbalik siap untuk mengomel pada pria yang dengan tidak sopannya sudah mengganggunya itu.

“Kenapa gadis cantik sepertimu menangis sendirian di tempat yang lengang seperti ini?”

Joohyun tidak tahu apa yang membuatnya melakukan ini, melakukan apa yang kali ini ia perbuat; mungkin saja karena keprihatinan yang tersirat dari suara orang itu atau mungkin itu karena faktanya tidak ada yang bertanya kepadanya apa yang mengganggunya. Namun ia menemukan dirinya menangis di pundak orang asing itu.

Orang asing itu hanya memeluknya, tidak bertanya satu hal apapun, tidak memikirkan kausnya yang mungkin basah dan kotor karena riasan si gadis. Yang ia inginkan adalah supaya gadis ini tenang.

****

“Aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa aku langsung seperti itu.” Ujar Joohyun malu. Ia menatap pria itu singkat dan matanya membulat saat ia melihat kaus warna putih si pria. “Oh Tuhan aku sangat menyesal. Aku janji akan membersihkannya.” Ia merasa sangat marah dan kesal – tidak hanya karena bertemu musuhnya tapi ia menangis di depan orang asing, membuatnya terlihat bodoh dan yang paling memalukan, ia mengotori pakaian orang itu. Baguslah! Apakah harinya tidak bisa lebih baik dari ini?

“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Sekarang, kenapa kau tidak duduk dan bercerita padaku apa yang terjadi?”

Joohyun menatap orang itu ragu-ragu, kenapa ia harus membicarakan masalahnya dengan orang asing? Namun ia merasa kalau ia bisa mempercayai orang itu; orang jahat takkan memiliki senyum yang manis dan lembut seperti ini.

Ia menarik napas lelah, dan mengumpulkan keberaniannya, ia mulai terbuka untuk pertama kalinya tentang kekhawatirannya.

“Kekasih…ku yang sudah 4 tahun bersamaku, ia berselingkuh dengan sepupuku. Dengan sepupuku yang gila dan hal yang paling buruk ialah, mereka bahkan tidak bersembunyi, seolah-olah mereka berpikir aku sangat bodoh dan tidak menyadari apapun, yang tidak kusadari sepupuku sudah mengunjungiku sering sekali – setiap aku tidak di rumah, mereka sangat dekat dengan satu sama lain, dan mereka bahkan mempunyai nama panggilan sementara aku dan kekasihku saja selalu memanggil satu sama lain dengan nama, bahkan mereka juga sering keluar bersama untuk sebuah pertemuan kerabat.”

Setetes air mata jatuh saat ia membicarakannya. Itu bukanlah karena itu menyakitinya karena ia sudah menerimanya tapi itu karena jarang ada orang asing yang begitu peduli padanya, siap untuk mendengar cerita tentang kehidupannya yang malang.

“Sudah berapa lama?” tanya si orang asing dengan suara yang tercekik, mencoba menahan dirinya untuk tidak kalap.

“Hmm… sudah satu tahun tiga bulan?” ia tertawa getir.

“Apa yang membuatmu terikat padanya?”

Tanpa keragu-raguan, Joohyun menjawab seolah-olah ia sudah siap untuk pertanyaan ini. “Cinta. Aku mencintainya.”

Ia menoleh ke samping, tepat ke arah mata si orang asing itu dengan senyuman yang manis. “Siapa namamu, orang asing yang baik hati?”

“Panggil aku Keroro.” Si pria bangun dari tempatnya dan tertawa karena melihat ekspresi Joohyun.

“Apa? Nama aslimu.”

“Saat waktunya sudah tiba, aku akan memberitahumu. Jika kau ingin berbicara tentang sesuatu, ini nomor ponselku. Hanya kirim aku pesan dan aku akan menunggumu di sini.”

Dan dengan itu, orang itu meninggalkan Joohyun yang tercengang di bangku taman, dengan kertas di tangannya.

****

Di hari selanjutnya, Joohyun merasa sangat gugup dan pada saat yang sama bingung – ia sangat menyukai temannya itu dan cara dia mendengarkannya, tapi dia adalah orang asing dan meskipun Joohyun tahu itu, kenapa ia masih ingin bertemu dengan dia?

Setelah dua jam berjalan berputar-putar, ia memutuskan untuk mengirimi si orang asing pesan dimana dan kapan bertemu, untuk melihat apakah ia memang benar-benar serius.

Dan ia sangat terkejut, kalau sebenarnya orang itu datang lebih awal darinya, dengan senyuman yang sama dan kilauan di matanya.

Saat ini, mereka berdua mulai mengenal satu sama lain – Joohyun baru tahu kalau sebenarnya Keroro (ia masih tertawa setiap kali nama itu meluncur dari bibirnya) adalah mahasiswa di Universitas Yonsei, umurnya sama dengannya tapi Keroro adalah seorang oppa berdasarkan bulan. Dia ingin menjadi seorang musisi, menciptakan lagu untuk calon istrinya dan berbagi dengan dunia melalui musiknya. Dia berasal dari keluarga sederhana dan merupakan anak tunggal. Dia memiliki seekor anjing yang sudah seperti adiknya sendiri (hal yang membawa senyum yang jarang ada di wajah Joohyun).

Sementara Keroro baru tahu kalau dia adalah oppa Joohyun (hal yang membuatnya merasa tua), Joohyun berasal dari keluarga sederhana yang hangat dan juga merupakan anak tunggal seperti dia. Namun satu hal yang membuatnya marah tentang Joohyun hingga dia harus menyembunyikan tangannya karena bergetar – saat ia bertanya tentang mimpi Joohyun.

Joohyun menjawab kalau ia tidak punya mimpi semenjak keluarganya selalu menginginkan yang terbaik untuknya dan membuatnya untuk selalu belajar dan sempurna dalam segalanya. Kekasihnya menginginkannya untuk jauh dari tempat ini, namun keinginannya untuk pindah ke luar negeri langsung hancur seketika karena perselingkuhan ini.

Ia selalu ingin menjadi desainer busana, tapi orangtuanya ingin ia menjadi seorang pengacara.

“Wow, setiap aku memikirkan itu, aku tidak pernah hidup untuk diriku sendiri tapi untuk orang lain. Hah, aku benar-benar menyedihkan.”

“Jangan bilang begitu. Kau hanya egois dengan dirimu. Kau selalu menaruh kepentingan orang lain di atasmu. Joohyun, cobalah melakukan hal-hal yang kau suka.”

Si gadis hanya tersenyum dan melempar pandangannya pada bunga-bunga yang tumbuh di sekitar bangku.

“Apa yang membuatmu terikat padanya?”

“Cinta.”

Sekali lagi, Joohyun menjawab tanpa ragu-ragu, membuat Keroro menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya, menikmati sinar matahari di hari Minggu.

****

Sudah dua bulan, mereka bertemu setiap hari di tempat yang sama, pergi keluar atau makan atau bermain, mempelajari lagi dan lagi tentang satu sama lain. Pria ini masih memanggil dirinya Keroro  dan Joohyun tidak pernah menanyakan namanya. Meskipun setiap “kencan” mereka selalu dipenuhi kebahagiaan, itu selalu berakhir dengan pertanyaan yang sama dari Keroro dan jawaban Joohyun seperti robot dengan jawaban yang sama, di tempat ini, tak ada yang berubah.

Hari ini hanyalah hari yang sama seperti hari yang lainnya – mereka bertemu di tempat yang sama, mereka memakan apa yang disiapkan oleh Joohyun dan bercanda tentang hal-hal sepele, berdiskusi tentang apa yang mengganggu mereka dan akhirnya memutuskan untuk menjelajahi kota.

Lokasi pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah kafe untuk memesan secangkir coklat panas. Mereka mengambil sebuah tempat di dekat jendela dan mengagumi bunga Sakura yang gugur dalam ketenangan musim semi.

Setelah itu, mereka mengunjungi Lotte World dan bertingkah layaknya anak kecil – hal yang sangat tidak biasa untuk Joohyun – menaiki setiap wahana yang mereka bisa. Sayangnya, mood hari ini dihancurkan saat mereka bertemu Luhan dan selingkuhannya, Yoona. Untuk membuatnya terkejut, Joohyun hanya memasang ekspresi wajah kalem dan terganggu (mungkin karena kencannya dirusuhi) dan bertanya dengan suara mengejek apa yang sedang mereka lakukan disini, yang seharusnya kali ini Luhan sedang ada rapat penting.

Keroro harus berhenti tertawa saat Luhan mulai mencari alasan, wajahnya memerah karena takut ketahuan. Ia berhenti berjuang untuk mencari alasan saat ia menyadari ada pria asing disamping kekasihnya.

“Joohyun, siapa dia? Aku belum pernah bertemu dengan dia.”

“Teman lamaku. Dan asal kau tahu saja, kami sedang berkencan.”

Dengan tatapan tajam, ia menarik lengan Keroro dan menghilang di tengah keramaian, mencoba menghindari dari Luhan yang berteriak mengejar mereka.

****

“Apa kita sudah mengalahkan mereka?”

“Kupikir begitu.”

Joohyun bersandar di sebuah pohon Sakura sementara Keroro sedang meminum sebotol air, sedikit berusaha untuk berdiri saat tangannya mulai bergetar dan kesulitan bernapas. Namun untungnya, si gadis tidak menyadari apapun.

Saat Keroro berdiri, ia berjalan pada Joohyun, sebuah senyuman terukir di wajahnya, tepat di saat ia mendengar keluhan Joohyun. Saat ia menatap mata Joohyun, desah yang sama meluncur dari bibirnya, dalam kekaguman dan keterkejutan: bunga-bunga Sakura sedang gugur – meskipun menari adalah kata yang lebih baik untuk mendeskripsikan pertunjukan ini.

Mereka berdiri seperti itu beberapa saat sebelum si pria memecah ketenangan dan menanyakannya pertanyaan yang sama.

“Apa yang membuatmu terikat dengannya?”

Ia terlihat seperti biasanya dan ia sedang menunggu jawaban yang sama, saat ia menyadari kalau Joohyun sedang meragu.

“Tidak ada….Benar-benar tidak ada.” Bisik Joohyun, membuat Keroro membulatkan matanya.

Setelah jawabannya menggema di kepalanya dan mulai mengerti apa yang baru saja ia katakan, ia menatap Keroro dengan senyuman yang lebar, melompat seperti anak kecil dan berteriak.

“Oh Tuhan! Tidak ada yang mengikatku dengannya! Aku bebas, Keroro! Aku bebas!”

Keroro juga ikut melompat seperti dia dan memeluknya erat.

“Keroro, aku harus pergi! Aku berjanji kalau besok aku akan menemuimu lagi!”

Joohyun lalu berlari membelakangi Keroro, namun matanya tidak menyadari kalau si pria jatuh terbaring ke tanah. Tangan si pria memegangi dada kirinya, yang seolah berbisik meminta pertolongan. Namun sayang,

Joohyun sudah terlalu jauh.

TBC

Ayeee saya balik lagi nih! O ya, khusus buat FF ini. Saya pengen reader yang menentukan akhir dari FF ini. Apakah sad ending atau happy ending? Anda yang tentukan ^o^

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s