Because You Were My Wings 2

 

Title: Because You Were My Wings part 2

Author: Seonhee

Length: Twoshoot

Rating: T

Genre: Romance, Angst.

Main Cast:

–          Seo Joo Hyun

–          Kim Joon Myun

Other Cast:

–          Xi Lu Han

–          Im Yoon Ah

****

Segalanya seolah menjadi semakin buruk saat Luhan berusaha menenangkan kekasihnya. Yoona tidak bisa menerima kenyataan bahwa Joohyun sangatlah menganggap enteng hubungan mereka – dia harusnya menangis dan bertanya, “apa maksudnya ini?” bukannya kabur bersama pria tampan.

Itu bukan berarti ia membenci Joohyun – lebih seperti kalau ia cemburu dengannya: Joohyun sangat dicintai orangtuanya meskipun ia hanyalah boneka dari orangtuanya (paling tidak mereka sangat menyayanginya berbeda dengan orangtuanya) dia sangat dicintai oleh semua orang sementara Yoona harus berpura-pura bertingkah seperti anak kecil yang polos.

Luhan adalah seorang pria yang baik, namun tidak pantas untuk Joohyun; Yoona memilih untuk mengencani Luhan dibalik punggung Joohyun karena ia ingin melihat wajah cantik Joohyun ternoda oleh air mata, dan dugaan kalau ia menerima kenyataan itu tidak muncul sama sekali dalam batin Yoona.

Tidak sama sekali.


****

Joohyun berlari secepat yang ia bisa, mengabaikan bunyi klakson dan teriakan orang orang saat ia langsung memotong jalan. Rumahnya sudah semakin dekat dan dekat. Semenjak ia menyadari kalau ia sudah bebas untuk pergi, ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya – ia bisa memulai hidupnya yang baru bersama Keroro di sisinya.

Saat ia mencapai pintu depan, ia membukanya dengan sedikit paksaan, mengagetkan orang tuanya dengan Luhan dan selingkuhannya. Ia berlari ke ruangannya dan mengambil koper, tidak terlalu besar atau terlalu kecil, ia mulai memasukkan pakaiannya.

Setelah kopernya sudah siap, ia langsung menuruni ruang tamu di saat keluarganya yang hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

Dengan senyuman yang lebar, ia menarik napas panjang dan berbicara dengan nada ceria, seolah-olah jawabannya takkan menimbulkan masalah sama sekali.

“Luhan, aku tahu kau selalu bertemu Yoona di belakangku sejak lama tapi itu tak apa, sungguh, kau bebas berkencan sekarang. Sepupuku sayang, aku ingin memberitahumu bahwa aku sama sekali tidak marah dan aku mengerti dirimu. Ibu, ayah, aku ingin pindah ke universitas lain dan mempelajari sesuatu yang ingin kupelajari bukan sesuatu yang orang lain mengharapkanku untuk mempelajarinya.”

Kesunyian yang mengalihkan seluruh ruangan, dipecah oleh suara ibu Joohyun yang menampar Joohyun seketika.

****

“Darurat! Darurat! Dokter!” beberapa perawat dan seorang dokter langsung menghampiri ranjang seorang pasien yang terlihat sudah hampir tak bergerak lagi, jantungnya semakin lemah.

“Putraku! Tuhan, Joonmyun-ah! Dokter tolong!” seorang wanita tampak terus menangis dan memohon, situasi jadi semakin darurat dari sebelumnya.

Si pemuda menitikkan air mata, tangannya menjatuhkan sebuah ponsel yang tadi sempat ia genggam. Ia sudah siap menghadapi kematiannya dengan senyuman.

****

“Umma! Kau tidak bisa melakukan ini, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan yang benar!” teriak Joohyun sambil menendang dan memukul pintu kamarnya, air mata membasahi wajahnya.

“Kau akan dikurung disana sampai pikiranmu kembali waras.” Ujar ibunya sambil mengunci pintu kamar Joohyun, tidak menghiraukan tangisan putrinya. Semua ibu tahu yang terbaik untuk anaknya, pikir umma Joohyun.

Joohyun jatuh berlutut, menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya ia segera kabur atau apa di saat ibunya tadi memarahinya. “Oh, kenapa. Kenapa ia begitu bodoh?”

****

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia disana, di samping pintu sambil memeluk lututnya erat, rambutnya yang panjang  jatuh menutupi wajahnya.

Kesunyian itu terpecah dengan suara batu yang membentur jendela kamarnya. Dengan penasaran, ia berjalan ke jendelanya dan mencari siapa pelakunya. Namun tak ada siapapun disana, jadi ia hanya kembali ke tempatnya semula sambil merajuk. Namun langkahnya terhenti, ia mengerti kenapa orang itu melempar batu ke jendelanya – supaya ia bisa melompat dari jendela dan kabur.

Dengan senyum yang lebar, Joohyun mengambil barang-barangnya. Ia membuka jendelanya dan melempar kopernya duluan sebelum ia melompat. Setelah semuanya siap, ia lalu melompat dari jendela dan mendarat dengan anggun.

Saat ia menyentuh tanah, Joohyun langsung berlari. Jantungnya hampir meledak karena kebahagiaan. Namun saat-saat berharganya hancur di saat ia melihat orangtuanya keluar dari rumah, mengikutinya. Ia bisa membayangkan pertengkaran apa yang akan terjadi kalau ia sampai tertangkap.

Penasaran, ia kemudian menoleh ke belakang dan terkejut dengan pemandangan yang ia lihat – Yoona dan Luhan sedang menahan kedua orangtuanya, membantunya untuk lari.

“Lari, sepupuku! Lari Joohyun!”

“Joohyun-ah, lari! Semoga hidupmu bahagia! Aku minta maaf! Tapi suatu hari, kuharap kau bisa memaafkanku!”

Dengan berlinang air mata, ia mengangguk dan kembali berlari, tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan Keroro sebuah pesan, memberitahunya untuk kembali bertemu di tempat yang sama.

Pada akhirnya, ia bebas.

****

Ia akhirnya sampai di tempat biasa ia bertemu dalam 1 jam, yang biasanya memakan 2 jam untuknya. Ia lalu mulai mencari Keroro, dan mulai khawatir di saat ia tidak menemukan siapa-siapa. Saat ia semakin khawatir, ia hendak menelpon Keroro bersamaan dengan masuknya sebuah pesan suara.

//Hei, Joohyun. Ah, aku benar-benar payah. Bisakah kita mulai dari awal lagi?// Joohyun tertawa kecil.

//Jadi, sebelum kita mulai, aku ingin kau tahu kalau persahabatan kita ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku. Kau membuat satu bulan terakhirku menjadi bulan terakhir paling berharga untukku. // Sebulan terakhir? Joohyun menjadi bingung dan mengerutkan dahinya.

//Kau tahu? Kita pernah bertemu. Setiap kali kau mengunjungi sepupumu, aku selalu disana, melihatmu dari jauh, sedih karena kau selalu disakiti. Hal terbaik yang bisa kulakukan adalah menemanimu dan membuatmu sadar kalau kau bisa mengakhiri semua ini. Jika pesan ini sudah terkirim, itu artinya tugasku sudah selesai. Yang berarti, aku sudah meninggal.//

Setelah mendengar kabar mengejutkan itu, yang ada hanyalah sunyi. “Aku pasti salah, tidak mungkin.” Joohyun mencoba membantah pernyataan itu.

//Jangan pernah datang ke pemakamanku; keluargaku takkan mengizinkanmu masuk. Tolong penuhi permintaanku; Ingatlah aku sebagai orang yang selalu hidup, bukan terbaring kaku di peti mati. Kuharap hidupmu selalu bahagia, Seohyun. Jaga dirimu, Kim Joonmyun.//

//Tuut. Tuut.//

Joohyun menjatuhkan ponselnya; semuanya sudah masuk akal. Dia adalah anak laki-laki yang waktu itu, anak laki-laki yang ibunya menangis di saat Joohyun mengunjungi sepupunya berbulan-bulan lalu, dan bocah itu menjatuhkan saputangannya (saputangan yang sampai sekarang masih dimiliki Joohyun), anak laki-laki yang memiliki jantung yang lemah, anak laki-laki yang divonis akan meninggal dalam waktu kurang lebih beberapa bulan.

Ia benar-benar sangat bodoh! Ia harusnya menyadari tanda-tanda yang sudah jelas itu, tanda-tanda yang membuktikan kalau ada yang salah: nafasnya yang berat setelah berlari, tangannya yang bergetar, kulitnya yang sangat pucat, caranya memegang dada kirinya.

Joonmyun melakukan segalanya yang sebenarnya ia sudah dilarang hanya untuk membuat Joohyun tersenyum. Ia…ia secara tidak langsung membunuh dirinya sendiri untuk membantu Joohyun.  Joohyun membunuhnya.

Saat kebenaran membuatnya terpukul, Joohyun jatuh terduduk dan menangis. Joonmyun bahkan memanggilnya Seohyun, nama panggilan yang ia berikan saat pertemuan ketiga mereka.

Perlahan-lahan, ia bangun dan mengambil kopernya. Air mata membasahi wajahnya, di saat jalanan seolah-olah hilang menjadi ilusi. Tepat di saat ia akan menyebrang, sebuah mobil hendak menghantamnya. Namun sebuah tangan menariknya.

Joohyun tidak berani membuka kedua matanya, namun ia baru membuka matanya di saat ia merasakan ada tetesan yang membasahi pergelangan tangannya. Itu Joonmyun, matanya berlinang air mata.

“Keroro apa yang-”

“Setelah apa yang kulakukan untuk membuatmu terus percaya.” suara Joonmyun bergetar.  Rasa bersalah mulai melingkupi Joohyun. Setelah semua yang dilakukan Joonmyun, ia ingin bunuh diri?

Entah kenapa kini Joohyun menemukan dirinya kembali memeluk Joonmyun, seperti pertemuan pertama mereka, menangis membasahi seragam pasien Joonmyun. Namun ia tak peduli, ia tidak peduli lagi. Ia tak ingin kehilangan Joonmyun lagi.

“Kenapa kau begitu tega tidak pernah memberitahuku?” Joohyun masih terisak, sementara Joonmyun hanya terdiam. “Aku tidak bisa pergi karena kau memanggilku..” Joonmyun berbisik, hampir tidak bersuara namun cukup jelas untuk Joohyun.

Joonmyun tak tahu apa yang ia pikirkan. Yang ia ingat adalah gema suara Joohyun yang menangis, kemudian suara mobil yang membuat jantungnya kembali berdetak, memaksanya untuk bangun dari ranjang rumah sakit dan berlari menuruti instingnya.

Joohyun menarik dirinya dari pelukan Joonmyun, masih tidak berani menatapnya. Jemari Joonmyun menyentuh garis rahang Joohyun, memaksanya untuk menatap matanya. “Kenapa kau begitu ceroboh, Seohyun? Kau tahu kalau aku pasti sedih jika kau benar-benar dihantam oleh mobil itu.” bisiknya.

“Itu karena dirimu.”

Alis mata Joonmyun naik, pertanda kalau ia tidak memahami Joohyun.

Gadis itu meremas bahan roknya, masih menundukkan kepalanya. “Kau pernah bilang padaku, semua orang dilahirkan dengan sayap, dan sayap diciptakan untuk terbang.” dan matanya kembali menatap Joonmyun. “Tapi tidak padaku Joonmyun, aku tidak punya sayap.”

Joohyun mendekatkan wajahnya kepada Joonmyun, “Karena kau adalah sayapku, Joonmyun.”

Ia akhirnya mengumpulkan keberaniannya, menautkan bibirnya dengan bibir Joonmyun. Ia bisa merasakan kalau Joonmyun tersenyum diantara ciuman mereka. Bibir Joohyun sedikit asin, mungkin air matanya. Namun Joonmyun tak mau ambil pusing, ia akan membiarkan segalanya berjalan apa adanya, ia takkan menyia-nyiakan kehidupan keduanya.

Dan kuntum bunga sakura yang terakhir jatuh, menandakan perpisahan dengan musim semi, beserta kehidupan baru yang akan dimulai.

The end.

 

note: maaf endingnya gaje😥 saya gak jago bikin happy ending soalnyaaa ;AAA; /nangis dipojokan/

Mind to suggest something?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s